Sentra lele Bogor: Masih optimistis walau terhimpit harga pakan (4)



Naiknya harga pakan membuat keuntungan pembenih lele sangkuriang di Desa Cibeureum merosot. Harga pakan belakangan melonjak menjadi 30% dari omzet, padahal sebelumnya biaya pakan hanya sebesar 20% dari omzet. Namun demikian, pembenih tetap optimistis.

Lele sangkuriang memiliki arti besar bagi penduduk Cibeureum, Bogor. Lele yang dihasilkan dari persilangan induk betina lele dumbo generasi kedua (F2) dan jantan generasi keenam (F6) ini membawa sejuta harapan masyarakat. 

Dari bisnis pembenihan lele, masyarakat Cibeureum pun jadi makin sejahtera. Namun, pembenih lele belakangan mengaku pusing. Maklum, harga pakan lele meningkat tajam. Memang kenaikan harga pakan itu belum membuat para pembenih lele tutup kolam alias bangkrut. 

Menurut Supardi Badriawan, kalau harga pakan tak terkendali memang bisa membuat para pembenih lele merugi besar. Dia berharap, usaha pembenihan lele ini berjalan langgeng. "Usaha budi daya benih lele lebih menguntungkan dibandingkan dengan usaha yang saya jalankan sebelumnya," ujar Supardi yang sebelumnya berprofesi sebagai perajin sandal. 

Supardi mengungkapkan, tantangan terberat yang dihadapi para pembenih saat ini adalah terus naiknya harga pakan, seperti pelet dan cacing sutra. Para pembenih pun sebenarnya sudah menyampaikan masalah ini ke Dinas Perikanan kota Bogor. "Kami berharap Pemerintah Kabupaten Bogor bisa membantu. Namun mereka beralasan, yang menentukan murah tidaknya harga pakan adalah mekanisme pasar," ujarnya. 

Menurut Supardi, harga pakan pada awal tahun ini terlalu menggerus omzet. Di awal tahun, ongkos yang dikeluarkan pembenih untuk membeli pakan hanya sebesar 20% dari omzet. Tapi kini, ongkos membeli pakan itu telah melonjak menjadi 30% dari omzet. 

Masalahnya, meski harga pakan naik, para pembenih tidak bisa menaikkan harga benih. Dengan demikian, meningkatnya biaya pakan itu harus ditanggung sendiri oleh pembenih. "Kalau harga benih naik, pelanggan pasti pindah," keluh Supardi. 

Rekan seprofesi Supardi, Ade Mulyadi menambahkan, soal harga pakan memang jadi problema dari tahun ke tahun. Namun demikian para pembenih di Cibeureum masih bisa bertahan selama kenaikan harga pakan itu masih di bawah margin yang mereka peroleh. 

Bahkan Ade bertekad, selama permintaan masih tinggi dia tetap akan menjadi pembenih lele sangkuriang. Bahkan, ke depan, dia sudah berencana untuk membuat kolam-kolam pembenih baru dan memperbanyak indukan lele. "Mudah-mudahan cara ini efektif dan tak ada lagi cerita kelangkaan benih," katanya.

Tidak hanya jadi pembenih, Ade pun sudah memiliki berbagai rencana yang bersangkut paut dengan lele. Rencana pertama adalah membuat kolam pembesaran. Dengan demikian, dia tidak cuma jadi pembenih, namun juga petani pembesar. 

Saat ini dia sudah menyiapkan lahan seluas 3.000 m². "Lokasi itu akan dijadikan kolam pembesaran lele. Saat produksi benih aman, saya akan memulai pembesaran," katanya. 

Rencana berikutnya adalah membuka restoran dengan aneka menu berbahan baku lele. Dan dalam waktu dekat ini, Ade sudah menyiapkan bisnis lele asap yang dijual dalam bentuk kemasan. "Di Bogor baru ada satu pemain, kebetulan saudara saya sendiri," katanya. 

Jika punya semangat, pasti bisa melalui jalan seterjal apa pun.

(Selesai)

sumber : kontan.co.id
Share: