Pembudidayaan ikan yang turun-temurun (1)



Anda seorang penggemar pecel lele? Kalau iya, tahukah Anda di mana para pedagang warung pecel yang menjamur di berbagai sudut Jabodetabek ini mendapatkan ikan lele itu? 

Salah satu pemasok ikan lele terbesar di wilayah Jakarta dan sekitarnya adalah sentra budidaya lele dan gurame di Desa Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari, Depok, Jawa Barat. 

Untuk menuju sentra ini tidak sulit. Arahkan kendaraan Anda menuju Jalan Raya Parung. Setelah melewati Pasar Parung, Anda tinggal mencari nama Jalan Suhaemi. Selanjutnya menuju daerah Parung Poncol. 

Masuk ke Jalan Suhaemi, Anda akan lepas dari kehidupan kota yang penuh sesak. Suasana pedesaan yang tenang dan teduh, niscaya membuat Anda betah berlama-lama di desa ini. 

Di sepanjang Jalan Suhaemi, Anda akan menemukan puluhan kolam ikan air tawar di hampir setiap rumah penduduk. Sejak zaman baheula, Desa Duren Mekar dan Duren Seribu memang sudah kesohor sebagai sentra budidaya ikan air tawar. 

Para penduduk di desa itu paling banyak membudidayakan ikan lele dan gurame. Selebihnya mereka membudidayakan ikan patin dan nila. 

Mayoritas penduduk di Desa Duren Mekar dan Duren Seribu sudah menjadi petani ikan secara turun-temurun. "Sekitar 60%-70% penduduk pekerjaan utamanya budidaya ikan," kata Nahrowi, seorang pembudidaya, sekaligus Ketua Kelompok Tani Family Jaya I dan Ketua Unit Pengembangan Perikanan (UPP) Depok. 

Pendapatnya dibenarkan Rosidih, pembudidaya ikan lele lainnya. Pria berusia 37 tahun ini mendapat ilmu membudidayakan ikan dari sang ayah, yang juga pembudidaya ikan lele dan gurame. "Saya sudah membudidayakan ikan sejak masih sekolah di SMA," kata Ketua Kelompok Tani Family Jaya VI tersebut. 

Begitu pula dengan Supardi, pembudidaya lainnya di sentra ini. "Saya sudah membudidayakan lele sejak tahun 1983," kata Supardi yang menjadi anggota kelompok tani Family Jaya VI. 

Maklum, karena banyak, para pembudidaya ikan di Duren Mekar tergabung dalam beberapa kelompok tani. Satu kelompok tani beranggotakan 15-20 orang. 
Sebagian besar pembudidaya membuat kolam ikan di samping halaman rumahnya. Ada juga yang membudidayakan di balong (empang). "Jika ditotal, seluruh luas lahan budidaya ikan lebih dari 50 hektare. Ini baru hitungan kolam yang produktif," kata Nahrowi. 

Ada sejumlah alasan mengapa sebagian besar penduduk di desanya lebih memilih menjadi peternak ikan ketimbang petani padi. Suatu ketika, kata Nahrowi, pernah dilakukan pengujian produktivitas penggunaan lahan di Duren Mekar dan Duren Seribu. Hasilnya, budidaya ikan dianggap lebih menguntungkan dibandingkan budidaya tanaman padi. 

Asal tahu saja, sejumlah pedagang dan pembudidaya ikan dari tempat lain kerap membeli benih ikan lele dari desa ini. Jadi, para pembudidaya ikan di sani tidak perlu mencari pasar untuk ikan-ikan kecil hasil pembenihan. 

Menurut Rosidih, para pembudidaya ikan di Duren Mekar dan Duren Seribu fokus pada pembenihan ikan. "Karena, untuk perluasan lahannya tak cukup," ujarnya. 

(Bersambung)
sumber : kontan.co.id
Share: