Peluang menjanjikan budidaya philodendron (1)

Mungkin tak banyak orang  mengenal tanaman philonderon. Padahal, tanaman hutan tropis ini memiliki banyak manfaat. Antara lain mampu menghilangkan zat beracun yang terkandung di dalam cat kayu dan tembok.
Bahkan, tanaman yang identik dengan warna hijau ini juga mampu menyerap zat nikotin. Makanya, tanaman ini cocok ditaruh di dalam rumah. Philonderon juga banyak dimanfaatkan sebagai tanaman potong yang digunakan untuk keperluan dekorasi ruang dan buket. Lantaran banyak kegunaannya, philonderon masih terus diburu oleh para pencinta tanaman sampai penata bunga.
Steve Stanley, salah seorang pembudidaya philodendron asal Kota Malang, mengatakan, tanaman ini tidak akan punah seperti tanaman anthurium. "Permintaannya stabil dari tahun ke tahun," katanya.
Pria yang akrab disapa Steve ini sudah membudidayakan philodendron sejak tahun 2012. Hingga saat ini, dia mempunyai koleksi ribuan pohon philodendron dengan 25 jenis yang ditanam di lahannya di daerah Batu dan Bojonegoro, Jawa Timur.
Steve banyak memasarkan tanamannya melalui media digital dan baru menjajal pasar offline beberapa bulan lalu. “Kami berani offline karena tanaman ini bisa tahan sekitar 14 hari di dalam ruang,” katanya.
Dalam sehari, Steve dapat mengirim sekitar 10 orderan. Bila dirupiahkan, omzet setiap harinya sekitar Rp 250.000 atau Rp 7,5 juta per bulan. Meski omzetnya terbilang kecil, namun keuntungan bersih yang didapatkannya bisa mencapai 100% dari omzet.
Karena memasarkan produknya melalui online konsumen Steve tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Pembudidaya lainnya adalah Supriadi asal Tangerang, Banten. Pria yang akrab disapa Usup ini sudah menanam philodenron sejak 15 tahun silam. Sayangnya, beberapa tahun lalu lahan pembibitannya yang berada di Ciledug, Tangerang, kena gusur.
Saat ini, ia mengalihkan seluruh tanaman philodendronnya di rumahnya. Usup membandrol tanaman hijau ini dengan harga bervariasi, tergantung ukuran mulai Rp 2.000–Rp 3.000 per batang.
Dalam sehari, Usup dapat mengirimkan sekitar 1.000 polibag kepada seluruh pelanggannya di daerah Bogor, Serang, Tangerang dan Bandung. Bila dihitung, omzetnya dalam sehari sekitar Rp 2 juta.
Jadi, dalam sebulan total penjualan philodendrom miliknya bisa mencapai Rp 60 juta. Usup mengaku, mengantongi laba bersih sekitar 50% dari omzet. Selain menjualnya melalui offline, Usup juga menggunakan media digital untuk mempromosikan tanaman philodenronnya.        
(Bersambung)
sumber : kontan.co.id
Share: