Pasokan ikan sepi, harga jual tinggi (3)

Demi menjaga persediaan benih ikan lele, para pembudidaya di Desa Duren Mekar, Parung, Jawa Barat, kerap mengganti indukan lele. Maklum, dalam budidaya ini juga ada siklus musim bertelur. Jika terjadi perubahan cuaca, induk lele akan sedikit bertelur. Dalam periode ini, harga benih lele dapat melonjak tinggi.
Dalam membudidayakan ikan lele, biasanya para pembudidaya bakal rutin mengganti indukan jika si induk telah tiga sampai lima kali bertelur. Tapi, tak jarang, induk tersebut dipertahankan bila masih bisa menghasilkan banyak telur.

Hanya, ketika induk sudah tua dan produktivitas menurun, para pembudidaya akan mencari indukan baru. "Biasanya kami ambil indukan dari lele betina yang hidup di empang,"kata Rosidih, pembudidaya lele di Desa Duren Mekar, Parung.

Selain itu, para pembudidaya mendapatkan induk dengan membelinya dari pembudidaya lele lainnya. Mereka harus mengganti indukan itu demi menjaga jumlah pasokan lele yang bisa dijual.

Menurut Nahrowi, kolega Rosidih, di sentra ini, stok lele berkurang karena produktivitas indukan sudah menurun dan pengaruh siklus musim bertelur lele. Kendati ikan "berkumis" ini bisa bertelur kapan saja, terkadang jumlah telur dalam induk betina terbatas. "Biasanya di bulan Juli hingga September, orang sulit dapat lele," katanya.

Perubahan cuaca menyebabkan induk betina sedikit bertelur. Sehingga, produksi benih lele pada bulan-bulan itu juga lebih sedikit.
Nah, di saat seperti itulah, harga jual lele melonjak tinggi. Jika, biasanya harga satu benih lele Rp 20, di saat musim sulit bertelur, harga benih Rp 25 per ekor.

Lazimnya, benih lele sudah bisa dijual saat berusia 10 hari. Namun, jika pasokan benih sedang sulit, para pembudidaya kerap membeli benih berusia lebih muda.

Contohnya, Supardi. Salah satu pelanggannya pernah memborong benih lele hasil budidayanya yang baru berumur 5 hari. "Waktu itu nilai pembelian seharga Rp 2,5 juta," kenangnya.

Pengambilan lele yang berusia lebih muda itu bertujuan agar petani bisa tetap mendapatkan pasokan benih lele. Maklum, jika stok benih di pembudidaya sudah tipis, petani akan berebut mendapatkan pasokan baru.

Asal tahu saja, para pembudidaya lele di Desa Duren Mekar tidak terikat dengan satu pembeli. "Siapa yang datang duluan, dia yang dapat," imbuh Supardi. Tak heran, pembeli bersedia mengangkut lele muda ini dengan harga lebih tinggi.

Selain membudidayakan lele, para petani juga membudidayakan gurami yang harganya lebih mahal. "Kalau lele untuk penjualan jangka pendek, sedangkan gurami itu untuk jangka yang lebih panjang," kata Rosidih.

Dia memiliki sembilan kolam dan dua empang untuk membudidayakan ikan lele dan gurami. Panen lelenya tiga kali sebulan. Sedangkan panen gurami sekali sebulan.

Rosidih membeli telur gurami untuk dibudidayakan seharga Rp 35 hingga Rp 50. Setelah berusia sebulan, dia bisa menjual benih itu seharga Rp 200 per ekor.

Dia menilai, budidaya gurami lebih mudah. Sebab, ikan ini bisa tahan tidak diberi makan dua atau tiga hari. Sedangkan lele harus diberi makan setiap hari.

Setelah sebulan menetas, Rosidih menjual sebagian gurami. Sisanya ia pelihara di empang. Ia membesarkan gurami itu hingga berusia antara 2,5 bulan-3 bulan.

Ikan gurami usia 3 bulan bisa dijualnya seharga Rp 1.500 per ekor. Kini, dua empangnya dipenuhi gurami yang siap angkut. "Kalau diangkut bisa dapat Rp 10 juta," imbuhnya.

Penghasilan petani akan lebih besar jika lahan bertambah luas dan modalnya kuat. Nahrowi memiliki lahan budidaya ikan seluas 5.000 meter persegi, yang berisi lele, gurami, dan patin.

Dengan empang yang lebih luas, dia bisa membesarkan ikan lebih banyak dan beragam. "Sebulan omzetnya antara Rp 50 juta hingga Rp 100 juta," kata Nahrowi. 
(Bersambung)
sumber : kontan.co.id
Share: