Modal murah, budidaya kembang kol menjanjikan (1)

Siapa tak kenal kembang kol alias kubis bunga? Sayuran yang berasal dari Eropa subtropis di wilayah Mediterania ini sudah cukup populer di Indonesia. Tanaman bernama latin Brassica oleracea var ini kerap dijadikan campuran dalam aneka menu masakan.

Kembang kol banyak dicari karena banyak mengandung vitamin dan mineral. Salah satu pebudidayanya Muklas   di Samarinda, Kalimantan Timur, Muklas melirik peluang bisnis dari tanaman ini sejak 2008 silam. Ia mulai membudidayakan kembang kol di lahan seluas 4.000 meter persegi (m2). 

Menurutnya, budidaya  kembang kol tidak butuh biaya terlalu besar. Satu kantong bibit seberat 15 gram bisa didapat seharga 
Rp 85.000-Rp 90.000. Bibit itu bisa menghasilkan 1.800 tanaman kembang kol.

Muklas biasanya menghabiskan biaya sekitar Rp 3 juta untuk membeli bibit serta biaya operasional untuk lahan tersebut. Namun, setiap bulan, ia bisa menyuplai 4 ton - 5 ton kembang kol ke berbagai pasar di wilayah Kalimantan. 

Peminat kol banyak. Namun, Muklas bilang, harga jual fluktuatif  tergantung ketersediaan pasokan. "Saat ini, harganya sekitar  Rp 5.000 per kilogram (kg). Padahal, belum lama ini harganya mencapai Rp 20.000  per kg," bebernya. 

Sementara Gunawan Wibisono, petani di Nganjuk, Jawa Timur, mulai membudidayakan tanaman ini sejak tiga tahun silam. Ia memanfaatkan lahan seluas 1.400 meter persegi, dengan kapasitas 3.500 tanaman kembang kol.

Gunawan juga menghitung budidaya tanaman ini tergolong murah. Ia membeli bibit kol seharga Rp 90.000 per kemasan seberat 10 gram atau 1.500 tanaman. Sekali tanam, ia bisa menghabiskan modal Rp 1,5 juta - Rp 2 juta. Biaya itu sudah mencakup pembelian bibit, pengolahan tanah, dan biaya operasional. 

Gunawan memasarkan hasil panennya kepada para pedagang di Jawa Timur. Ia bisa menjual sekitar 1,9 ton kembang kol saban bulan. 

Menurutnya, harga kembang kol cukup fluktuatif. Namun, rata-rata harga jual sekitar Rp 5.000 per kilogram. “Kadang, harganya mencapai Rp 12.000 per kg, apabila suplai sedang sedikit,” jelasnya.

Gunawan bisa mengumpulkan omzet sekitar Rp 10 juta per bulan. Dari jumlah itu, ia bisa mengantongi laba bersih berkisar 60%-80%. 

Sementara, Muklas mengaku bisa mengantongi omzet sekitar Rp 20 juta - Rp 30 juta sebulan. Keuntungan bersih berkisar 30%.

Lantaran harga jual kembang kol di pasaran fluktuatif, petani harus pintar-pintar melihat kondisi sebelum memulai penanaman. Menurut Gunawan, biasanya mendekati hari raya atau libur panjang, harga jualnya tinggi. Pasalnya, permintaan melejit, sementara stok normal. (Bersambung
Share: