Modal mini, sulit jangkau ekspor (3)


Meskipun pasar ekspor ikan hias sangat besar, namun tidak semua pedagang dan pembudidaya ikan hias bisa mencuil gurihnya pasar tersebut. Hal ini diakui para pedagang di sentra Jalan KH Agus Salim, Semarang.

Salah seorang pedagang, Supriono menuturkan, meski sudah berjualan ikan hias sejak 10 tahun silam, namun cakupannya masih terbatas untuk pasar lokal di Semarang. Meskipun, tak jarang ada pembeli yang datang dari wilayah sekitar Jawa Tengah. Kalau ekspor belum bisa.

Pria yang akrab disapa Supri ini bilang, ia memang sudah mulai membudidayakan jenis ikan tertentu, yakni lele putih. "Tapi, itu pun hanya untuk saya jual di kios sendiri, sisanya diambil pedagang lain," ungkapnya.

Ia mengaku, belum bisa merambah pasar ekspor, lantaran terkendala modal. Pasalnya, untuk bisa menghasilkan ikan berkualitas ekspor dengan kapasitas besar butuh lahan yang cukup luas dan investasi besar. "Untuk membudidayakan lele putih saja, saya sudah menggunakan seluruh pekarang rumah, yang hanya seluas 200 meter persegi," ungkap Supri.

Selain modal, ia mengklaim, kesulitan bagi pembudidaya kelas usaha kecil menengah (UKM) untuk masuk pasar ekspor ia belum memiliki jaringan alias koneksi ke luar negeri. 

Asal tahu saja, keanekaragaman dan keunikan ikan hias asal Indonesia menjadi incaran banyak pecinta ikan hias dunia. Asia, Uni Eropa dan Amerika Serikat menjadi kawasan utama ekspor ikan hias asal Indonesia.

Ketua Komite Ikan Hias Indonesia (KIHI) Budi Wijaya mengakui, pasar ikan hias Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sejauh ini, Indonesia berada di peringkat lima penghasil ikan hias terbesar di dunia. "Tahun ini, nilai perdagangan ekspor ikan hias diharapkan bisa naik 10% dibanding tahun lalu," tuturnya. 

Sekadar gambaran, data Kementrian Kelautan dan Perikanan RI menunjukkan, nilai ekspor ikan hias Indonesia pada 2011 sebesar US$ 13,262 juta. Tahun lalu diperkirakan sekitar US$ 20,4 juta.  

Menurut Budi, jenis ornamental common fish paling diminati pasar ekspor, seperti ikan botia dan ikan sumatra. Sedangkan, pasar dalam negeri lebih meminati ikan hias kelas menengah ke atas, seperti ikan koi. 

Budi mengklaim, sebagai asosiasi, pihaknya berusaha memfasilitas pembudidaya jika tidak memiliki jaringan ke luar negeri.

Namun, kata Budi, persoalan bukan hanya soal jaringan, namun lebih pada profesionalisme. Setidaknya, pembudidaya harus memenuhi tiga syarat untuk bisa mengekspor, yaitu menghasilkan produk yang berkualitas, berkelanjutan dan higienis. 

Selama ini, banyak pembudidaya yang tidak bisa memproduksi jenis ikan secara berkelanjutan. Kualitas pun masih di bawah standar. "Belum lagi, ikan yang dihasilkan belum memenuhi persyaratan kesehatan, masih membawa penyakit, sehingga ditolak pasar ekspor," katanya. 


(Selesai)

sumber : kontan.co.id
Share: