Mengolah hasil laut sejak 1980-an (1)


Lantaran terletak di pesisir pantai utara Pulau Jawa, wilayah Surabaya juga dikenal sebagai penghasil olahan hasil laut dan air payau. Contohnya: di Kelurahan Gunung Anyar. Di tempat ini, terdapat belasan tempat produksi kerupuk dari bahan baku ikan payus, udang, dan kerang.

Salah satu perajin, Nur Muniroh bercerita, pembuataan kerupuk sudah ada sejak 1980-an. "Sudah dari zaman ibu saya. Tapi, dulu baru ada sekitar tiga tempat produksi kerupuk," tutur pemilik usaha kerupuk Jaya Abadi ini.

Kemudian, para pengrajin yang tidak lain warga kelurahan tersebut mewariskan resep mereka secara turun-temurun, sehingga kini terdapat 8 tempat produksi kerupuk. 

Muniroh sendiri mulai mengambil alih usaha milik ibunya sejak 10 tahun silam. Dari sang ibu ia mendapat cerita, awal munculnya olahan kerupuk ikan, karena di sekitar hutan bakau di Gunung Anyar terdapat puluhan penambak ikan payus. Ikan yang mirip ikan bandeng ini ternyata gurih dan nikmat saat diolah menjadi kerupuk. "Mulailah ibu rutin mengolah hasil tambak tersebut menjadi kerupuk," tuturnya.

Ternyata, warga setempat menggemari kerupuk ikan payus. Banyak tetangga yang ikut mengolah, sehingga Gunung Anyar populer sebagai sumber penghasil kerupuk ikan payus. 

Seiring waktu, jenis kerupuk yang dihasilkan terus berkembang. Kini, selain kerupuk ikan payus, juga ada kerupuk udang dan kerang.

Pemilik usaha kerupuk Pamurbaya, Nur Izul Inayah mengamini. Ia juga meneruskan usaha warisan ibunya, Perempuan yang akrab disapa Inayah ini bilang, ibunya menekuni pembuatan kerupuk ikan setelah para tetangga melakukannya. "Dari tetangga itu pula, ibu saya belajar membuat kerupuk dengan rasa khas, yang saya warisi sekarang," ujar perempuan yang mempekerjakan enam karyawan ini.

Selain resep yang terus dipertahankan, bahan baku ikan payus pun hingga kini tetap dipertahankan untuk menjaga ciri khas. Inayah menjelaskan, secara fisik, ikan payus memang mirip  bandeng, tapi ukurannya lebih panjang. "Namun rasanya beda jauh, tekstur daging ikan payus ini lebih lembut, dan rasanya lebih gurih," imbuh Inayah.

Kerupuk yang dihasilkan para perajin di Gunung Anyar ini dibedakan jadi dua jenis, yakni jenis biasa dan spesial.Kerupuk biasa dibanderol Rp 20.000 per kilogram (kg). Sementara, kerupuk spesial dijual Rp 60.000 per kg.

Kerupuk spesial tentu punya kualitas lebih tinggi. "Cara memasaknya berbeda, komposisi ikan, udang atau kerangnya juga lebih banyak" klaim Inayah. 

Dalam sebulan, Inayah dan Muniroh mengaku mampu memproduksi masing-masing sekitar 500 kg kerupuk. Dari produksinya itu, mereka bisa meraup omzet sekitar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta dalam satu bulan. "Tapi, menjelang dan setelah Lebaran, kami bisa produksi sampai dua kuintal sebulan," imbuh Muniroh senang. 


(Bersambung)

sumber : kontan.co.id
Share: