Laba menggelembung dari budidaya si bulat ungu (1)

Kubis atau kol ungu kini makin populer dikonsumsi, salah satunya sebagai pelengkap bahan baku salad sayur. Tanaman yang memiliki nama latin Brassica Oleraceae L. ini sama seperti kol putih, memiliki daun tersusun sangat rapat membentuk bulatan.
Tanaman ini bisa tumbuh baik di daerah pegunungan beriklim tropis. Warna keunguan pada kol ini disebabkan oleh kandungan ph di dalam tanah saat ditanam yang mempengaruhi pigmen antosianin. Pigmen ini menyebabkan warna ungu pada kubis.
Memiliki beberapa manfaat yang sangat baik bagi kesehatan membuat kubis ini makin dicari. seperti mencegah sariawan, dapat menonaktifkan zat beracun dalam tubuh manusia, sebagai antioksidan dan membantu menurunkan risiko penyakit jantung serta diabetes.
Salah satu pembudidaya kol ungu ini adalah Deri Galih Jatmiko (22 tahun) di Brastagi, Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Ia membudidayakan kol ungu sejak pertengahan 2013 di atas lahan seluas 20 meter (m) x 25 m.
Deri bilang kol bisa dipanen setelah tiga setengah sampai empat bulan. Sekali panen ia bisa menghasilkan 1,5 ton kol ungu. Kol tersebut dijual ke pengumpul dan juga ke pasar berkisar Rp 5.000–Rp 10.000 per kg.
Menurut Deri budidaya kol ungu jauh lebih menguntungkan dibanding dengan kol putih, karena harganya bisa empat kali lipat lebih tinggi. Jika dihitung dari hasil sekali panen, Deri bisa meraup omzet hingga Rp 15 juta sekali panen. Kendati menjanjikan, budidaya kol ungu ini terkendala oleh pengadaan bibit. Harga bibit tidak terlalu mahal hanya Rp 85.000 per bungkus. Namun, ia bilang tidak banyak toko-toko penjualan benih sayuran menyediakan bibit kol ungu.
Pembudidaya lainnya yang membudidayakan kol ungu adalah Erik Putra. Dia mulai membudidayakan kol ungu pada awal 2014. Sebelumnya Erik membudidayakan asparagus. Namun, karena permintaan kol ungu semakin meningkat khususnya di luar negeri, kini dia mulai fokus membiakkan kol ungu.
Lahan yang dia punya seluas 15 hektare (ha) di utara Kabupaten Karo, yakni Kecamatan Brastagi dan tidak jauh dari Kabupaten Langat. Dia menanam dan panen tidak pada waktu bersamaan. Dia mengatur waktu tanam dan membaginya dalam beberapa lahan, masing-masing sekitar 300 m. Sehingga ketika di lahan pertama baru ditanami kol ungu, di lahan lainnya sudah bisa di panen.
Sekali panen, Erik bisa menghasilkan 300 kilogram (kg) kol ungu. Sebagian besar dipasarkan ke luar negeri seperti Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Omzetnya mencapai Rp 180 juta per bulan. Untuk ekspor, Erik bergabung dengan pembudidaya kol ungu lain.    n
(Bersambung)
sumber : kontan.co.id
Share: