KKP dorong produktivitas tambak udang dipasena

    Tambak udang Bumi Dipasena merupakan salah satu sentra produksi udang terbesar di Indonesia. Seiring berhasilnya program revitasilasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), tambak udang yang terletak diKabupaten Tulang Bawang, Propinsi Lampung ini kian didorong produktivitasnya. Saat ini kegiatan operasional budidaya udang telah berjalan secara mandiri dan petambak plasma telah membentuk suatu badan usaha koperasi dengan nama Koperasi Petambak Bumi Dipasena (KPBD). Berkat kerja keras petambak, usaha budidaya yang sebelumnya terkendala karena masalah manajerial kini kembali berjalan dengan baik. "Produksinyasudah mencapai 20-30 Ton perbulan dan saat ini tengah berbenah untuk dipersiapkan menghadapi persaingan perdagangan udang global", ungkap Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti disela Kunjungan Kerja ke Tambak Udang Bumi Dipasena di Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung.

                Menurut Susi, optimisme kemampuan Indonesia dalam menghadapi persaingan perdagangan udang global bukan tanpa alasan. Dengan capaian produksi yang semakin meningkat dan produksi total udang pada tahun 2015 yang ditargetkan sebesar 785.900 ton diharapkan Indonesia kedepan akan menjadi negara produsen udang terbesar di Asia bahkan dunia. Tentunya hal ini dapat dicapai melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya alam secara arif dan berkelanjutan. Salah satu wujud pemanfaatan tersebut diantaranya keberpihakan petambak di Bumi Dipasena pada lingkungan tambak dan sekitarnya. Bentuk keberpihakan yang dilakukan melalui pembentukan BARAMUDA (Barisan Muda-muda) dan BARETA (Barisan Para Wanita) penjaga mangrove. "Kami berharap lingkungan mangrove di kawasan Bumi Dipasena selalu terjaga, karena ini juga akan melindungi lingkungan tambak yang merupakan sumber penghidupan, pendapatan dan penghasilan mereka", ujar Susi.

                Pada kesempatan kunjungan tersebut, Susi menyampaikan apresiasi atas usaha keras para petambak di Bumi Dipasena. Selain berhasil meningkatkan kesejahteraan petambak dan masyarakat sekitar, juga telah membantu dalam meningkatkan produksi udang secara nasional. Untuk itu pemerintah akan terus mendukung petambak dalam melakukan optimalisasi produksi sesuai dengan kaidah budidaya udang yang dianjurkan. Selain itu menurut Susi, pelaksanaan usaha budidaya udang mandiri dapat berhasil dengan baik apabila semua pihak bersinergi mendukung dan berkerjasama untuk mewujudkannya. Sehingga tujuan utama dalam rangka peningkatan produksi udang, kesejahteraan masyarakat pembudidaya dan penyerapan lapangan kerja serta lingkungan budidaya dapat dipertahankan secara lestari.

                Selain itu Susi menambahkan, udang sebagai salah satu komoditas perikanan budidaya yang merupakan unggulan ekspor Indonesia. Kondisi ini menjadikan udang memiliki posisi yang strategis dalam menopang perekonomian nasional melalui pendapatan devisa dan sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan pembudidaya dan masyarakat sekitar lingkungan budidaya udang. Tantangan pasar bebas dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), harus memacu semangat pembudidaya dalam melakukan budidaya sesuai anjuran pemerintah.  Dimana budidaya dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan kemandirian, memberikan nilai tambah dan juga ramah lingkungan sesuai dengan program kebijakan pembangunan perikanan budidaya yaitu Menuju Perikanan Budidaya yang Mandiri, Berdaya Saing dan Berkelanjutan. Ke depan, persaingan perdagangan khususnya komoditas udang akan semakin ketat dan berat. Industri budidaya udang nasional senantiasa harus di perkokoh dengan memunculkan teknologi-teknologi baru yang ramah lingkungan sehingga dapat mendukung keberlanjutan usaha budidaya sekaligus menjaga lingkungan sekitarnya.

                Sementara itu menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, tiga aspek utama yang perlu diperhatikan dalam usaha budidaya udang yang berkelanjutan adalah teknologi, sosial ekonomi dan budidaya ramah lingkungan. Aspek teknologi perlu diterapkan mencapai efisiensi dan meningkatkan kualitas produksi udang yang berkelanjutan. Aspek social ekonomi yang perlu diperhatikan adalah peningkatan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat sekitar sehingga mereka juga merasakan keberhasilan petambak dan sekaligus mampu menyerap tenaga kerja di sekitar lingkungan tambak. "Aspek ketiga yaitu budidaya ramah lingkungan adalah budidaya dengan memperhatikan lingkungan tambak dan lingkungan sekitarnya. Budidaya udang dengan penebaran sesuai dengan daya dukung tambak adalah salah satu upaya yang perlu dilakukan. Dengan padat tebar antara 60 – 80 PL/m2, sudah cukup menguntungan dan mendukung keberlanjutan usaha budidaya", ungkap Slamet.

                Slamet menuturkan, operasionalisasi tambak harus memenuhi beberapa syarat seperti adanya Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL), tandon air dan sistem resirkulasi serta klasterisasi. Menurutnya, semua ini akan berujung pada peningkatan produktivitas lahan dan kesinambungan usaha budidaya udang itu sendiri. Disamping itu, penambahan lahan tambak harus diikuti dengan penanaman pohon bakau untuk menambah area green belt (sabuk hijau) yang bisa melindungi tambak dari abrasi sekaligus sebagai nursery ground bagi komoditas lain. Pohon bakau juga dapat berfungsi untuk memperkuat tanggul tambak.

                Untuk itu menurut Slamet, diharapkan bahwa 30 persen dari luas total areal tambak harus dipergunakan sebagai lahan bakau. Sehingga hal ini akan sekaligus mengurangi resiko munculnya penyakit dan menghindari kerugian dari usaha budidaya udang. Pengalaman dari budidaya udang windu di masa lalu, jangan sampai terulang kembali. "Pembudidaya harus memperhatikan lingkungan sehingga dapat berbudidaya secara berkelanjutan, seperti padat tebar yang sesuai daya dukung tambak dan menggunakan sistem budidaya polikultur", pungkas Slamet.

    sumber : dpjb.kkp.go.id
Share: