Bangun pos maritim melalui marikultur

Budidaya laut atau dikenal dengan Marikultur saat ini terus didorong untuk mendukung dan menjadi bagian dari Pembangunan Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia. “Pengembangan marikultur sejalan dengan visi misi Kabinet Kerja yaitu mendorong laut menjadi sumber ekonomi bangsa. Dengan potensi lahan marikultur yang mencapai 4,58 juta ha, hal ini harus menjadi dorongan bagi kita untuk lebih focus dan serius meningkatkan produksi perikanan budidaya dari marikultur sehingga mampu mewujudkan Indonesia sebagai poros maritime dunia”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat melakukan penebaran benih kerapu di Pulau Panggang, Kab. Kep. Seribu, DKI Jakarta.
Produksi perikanan budidaya dari marikultur selama kurun waktu 2010 – 2014 (data sementara) mengalami peningkatan sekitar 27,6 % per tahun. Produksi ini disumbangkan dari komoditas Rumput Laut, Kakap dan Kerapu. “Sebagian besar produksi dari marikultur disumbang dari rumput laut. Budidaya rumput laut merupakan budidaya yang mudah dan murah untuk dilakukan. Melalui budidaya rumput laut, maka kita bisa membuka peluang usaha dan sekaligus menyerap tenaga kerja, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di pesisir. Budidaya rumput laut juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat baik yangterjun langsung sebagai pembudidaya maupun yang berperan dalam distribusi dan juga pengolahannya”, ungkap Slamet.
Slamet menambahkan bahwa sesuai dengan arahan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti bahwa pembangunan perikanan budidaya di dorong untuk selaras dengan tiga pilar pembangunan yang merupakan turunan dari Nawa Cita atau Visi Misi Presiden RI. Tiga pilar tersebut adalah Prosperity (Kesejahteraan), Sustainability (Keberlanjutan) dan Sovereignity (Kedaulatan). “Budidaya rumput laut merupakan salah satu usaha budidaya yang dapat dijadikan contoh riil dari kebijakan tersebut. Sebab budidaya rumput laut merupakan usaha budidaya yang tidak menimbulkan pencemaran, tidak perlu pakan dan obat, serta menggunakan teknologi yang sederhana. Sehingga biaya produksinya murah” tambah Slamet.
Pengembangan usaha marikultur yang lain juga perlu dilakukan seperti komoditas Kakap, Kerapu maupun Bawal Bintang. “Kita akan terus dorong pengembangan budidaya marikultur selain rumput laut ini. Salah satunya adalah melalui pembuatan Demonstration Farm (Demfarm) marikultur yang dilaksanakan oleh Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung di Kep. Seribu ini. Disini adalah satu lokasi demfarm disamping lokasi lainnya di Lampung (Pesawaran dan Lampung Selatan) dan Banten. Khusus untuk di Kep. Seribu nilai bantuan dalam rangka demfarm ini adalah kurang lebih sebesar Rp. 1,3 milyar yang di serahkan kepada Unit Pengembangan Budidaya Laut dan Sea Farming. Kita harapkan, melalui demfarm ini, minat untuk melakukan usaha marikultur meningkat sehingga mampu mendorong peningkatan produksi marikultur nasional”, papar Slamet.    
Slamet lebih lanjut mengatakan bahwa untuk mengembangkan marikultur perlu dilakukan zonasi. “Sebagai contoh rumput laut ke depan akan dikembangkan untuk wilayah garis pantai sampai dengan 4 mil, Sedangkan untuk wilayah di atas 4 mil dapat dikembangkan budidaya laut dengan menggunakan Karamba Jaring Apung (KJA) dengan komoditas yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing seperti Kakap, Kerapu, Bawal Bintang, Abalone atau bahkan Tuna. Komoditas marikultur merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomis tinggi karena berorientasi ekspor dan banyak diminati oleh pasar luar negeri yang masih sangat terbuka lebar”, lanjut Slamet.

Untuk mengembangkan marikultur selain rumput laut, memang dibutuhkan peningkatan dan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. “Sarana dan prasarana ini harus yang ramah lingkungan, mudah dan murah untuk didapatkan. Untuk ketersediaan sarana dan prasarana tersebut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) akan terus berupaya membantu para pembudidaya dalam memperolehnya dan sekaligus menyediakan teknologinya. BBPBL Lampung akan didorong untuk terus mencari teknologi yang mampu meningkatkan efektifitas usaha marikultur baik itu pakan, wadah maupun induk atau benih yang mampu tumbuh lebih cepat dan tahan penyakit. Seperti hal nya saat ini dilakukan penebaran benih kerapu macan sebanyak 8 ribu ekor dan bawal bintang 24 ribu ekor, untuk dua lokasi di P. Panggang. Apabila ini berhasil maka, dapat dikembangkan di Pulau-pulau lain yang terpencil atau di wilayah perbatasan, sekaligus untuk melindungi kedaulatan bangsa kita”, pungkas Slamet.

sumber : dpjb.kkp.go.id
Share: