Agar Media Sosial Tak Jadi Bumerang bagi Kesehatan


Aktif di media sosial bukan hanya membuat kita gembira dan bernostalgia, melainkan juga membangkitkan rasa marah, bahkan sedih. Tak heran jika bagi banyak orang, media sosial justru jadi bumerang untuk kesehatan mental.

Pada dasarnya, berkomunikasi melalui media sosial memang bermanfaat, tetapi jika berlebihan justru berakibat sebaliknya.

Sebuah penelitian terbaru mengenai dampak media sosial menunjukkan, terlalu sering "menyukai" posting-an seseorang atau "mengklik tautan" yang dibagikan di lini masa ternyata berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang buruk.

Belakangan ini, media sosial bukan hanya diisi oleh berita kelahiran, pertunangan, atau liburan teman dan keluarga, melainkan juga banyak berita politik atau informasi bohong yang justru membuat hati panas.

Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Holly Shakya, asisten profesor bidang kesehatan global dari Universitas California AS, disimpulkan bahwa mereka yang sering memperbarui status Facebooknya justru memiliki status kesehatan mental lebih buruk.

Bukan hanya itu, hasil studi yang dilakukan pada 5.400 orang berusia dewasa itu juga menunjukkan, orang yang kesehatannya buruk cenderung menggunakan media sosial, dan aktif di media sosial justru semakin memperburuk kondisinya. 

Kondisi mental yang buruk juga bisa timbul dari perasaan iri dan kesepian saat membandingkan diri dengan orang lain yang kita anggap sempurna di media sosial. 

Belum lagi jika kita merasa tidak diterima atau ditolak oleh orang lain gara-gara posting-an kita tidak mendapat respons yang diharapkan. Para ahli menyebut, semua perasaan depresif tersebut sebagai "depresi media sosial".

Anak-anak dan remaja ternyata lebih sensitif pada pengaruh media. Walau kondisi ini bisa dialami kedua jenis jender, perempuan lebih rentan terhadap depresi yang terkait dengan media sosial.

Batasi

Seperti banyak hal lain dalam hidup, sebaiknya gunakan media sosial tanpa berlebihan. Batasi waktu menggunakan media sosial, misalnya hanya saat waktu istirahat atau di perjalanan pulang kantor saja. 

Hindari keinginan untuk membandingkan kehidupan kita dengan orang lain di media sosial. Terlebih lagi, apa yang tampak sempurna di media sosial belum tentu faktanya demikian. Jika Anda tidak mampu menahan perasaan tersebut, berhentilah membuka media sosial sampai mood Anda baik kembali.

Lakukanlah aktivitas nyata, seperti berjalan-jalan ke taman, makan es krim dengan teman, atau ngobrol santai dengan keluarga. Kegiatan ini akan membuat Anda merasa terhubung dengan lingkungan sekitar. Orang yang memiliki ikatan sosial lebih kuat pada umumnya lebih merasa puas dan bahagia dengan hidupnya.


sumber : kompas.com
Share: