Usaha potong ayam orang Lamongan (1)

Daging ayam dikenal sebagai salah satu sumber protein bagi tubuh. Selain kaya protein, harga daging ayam cukup terjangkau ketimbang daging lainnya. Meski di Indonesia, konsumsi daging ayam potong lebih rendah dibanding negara lain di kawasan Asia Tenggara, produksi ayam potong selalu mengalami pertumbuhan.
Tahun ini saja, menurut Pusat Informasi dan Pasar Unggas Nasional (Pinsar), permintaan ayam potong nasional diperkirakan mencapai 2,2 miliar ekor, naik 10% dibandingkan tahun lalu sekitar 2 miliar ekor
Tingginya produksi ayam potong tentu membutuhkan banyak tempat pemotongan. Di Jakarta sendiri ada banyak tempat pemotongan ayam. Salah satu yang cukup besar adalah adalah sentra pemotongan daging ayam di Kecamatan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Lokasi ini berada tak jauh dari Pasar Kebayoran Lama, dekat pusat belanja Carrefour Express Kebayoran. Tepatnya di sepanjang jalan Makam. Menurut Mat Lai, salah satu pengusaha ayam potong yang juga menjadi Ketua Paguyuban Pengusaha Pemotongan Ayam Anak Lamongan (Arela), area ini mulai berkembang menjadi pusat pemotongan ayam sejak tahun 1980-an.
"Saat itu, hanya ada empat orang Lamongan yang menetap di kontrakan-kontrakan di Cipulir, dan mulai menjadi pemotong ayam," katanya. Seiring berjalannya waktu, warga Lamongan yang menetap dan menjadi pemotong ayam di daerah ini terus bertambah.
Hingga kini, terdapat 25 pengusaha atau pengepul ayam potong dan 370 kepala keluarga yang menjadi pemotong ayam. Mat Lai bersama dengan adik kandungnya mulai menjadi pengusaha ayam potong sejak 1993. Ia meneruskan usaha orang tuanya yang dulu juga menjadi pengepul ayam potong.
Di sentra ini, ada tiga jenis ayam potong, yakni ayam induk (parent stock) dengan bobot berat 3,5 kilogram (kg)–5 kg per ekor, ayam petelur dengan berat sekitar 1,9 kg–2,5 kg per ekor, dan ayam broiler dengan berat 0,8 kg–2 kg per ekor. Sementara, Mat Lai sendiri merupakan pengusaha ayam broiler.
Dalam sehari, ia bisa memasok 700 ekor ayam yang disalurkan ke pasar sekitar, seperti pasar Cipulir, Kebayoran Lama, Palmerah, Tanah Abang, Ciledug, dan Mayestik.
Tak hanya pedagang, ia juga memasok ayam ke restoran dan tempat makan di sekitarnya. "Sekitar 20% pasokan ayam, saya distribusikan ke tempat makan dan sisanya pasar," ujarnya.

Dalam sehari, Mat Lai bisa mengambil untung kotor sekitar Rp 3.000 per kg dari harga yang diberikan broker atau pemasok ayam. Adapun, harga kisaran ayam saat ini sekitar Rp 15.000 per kg.
Dari 700 ekor ayam broiler per hari, Mat Lai dapat memasok kebutuhan 900 kg–1.000 kg ayam. Dalam sehari, ia bisa memperoleh untung kotor Rp 2,7 juta–Rp 3 juta atau sekitar Rp 90 juta per bulan.
Supandri, salah seorang pemotong ayam yang tergabung dalam Paguyuban Arela, mulai menjadi pemotong ayam sejak 1987, dan memiliki dua tukang potong ayam. Dalam sehari, ia bisa memotong 100 ekor–150 ekor ayam broiler dengan perolehan upah harian Rp 200.000.
(Bersambung)
sumber : kontan.co.id
Share: