Umbalan Arus Balik, Ribuan Ikan Waduk Jatiluhur Mati

Sejumlah pembudidaya ikan air tawar di keramba jaring apung (KJA) di waduk Jatiluhur resah. Ribuan ton ikan jenis nila dan mas yang siap panen milik mereka mabok akibat umbalan arus balik.
Ikan tersebut terancam mati secara massal dan para petani bisa merugi hingga ratusan juta.
Eko Budianto (47), salah seorang pemilik japung mengaku, ikan mati secara massal. Awalnya, ikan yang mabok itu berasal dari kolam jaring apung asal Kampung Pasir Layang, Desa Galumpit, Kecamatan Tegalwaru.
Namun, makin menyebar hampir ke seluruh kolam jaring apung yang ada di Waduk Jatiluhur.
“Awalnya, air di kolam menjadi putih. Kemudian ikan, pada naik ke atas beberapa menit kemudian ikan itu mati. Hampir semua pembudidaya juga mengalami hal sama,” kata Eko saat ditemui di kolamnya, Selasa (15/1).
Adanya kejadian ini, menurut dia, para pembudidaya mengalami kerugian yang cukup besar. Bayangkan saja, jika dalam satu kolam terdapat satu ton ikan, maka kerugiannya mencapai Rp 14 juta per kolam.
Harga ikan saat ini sekitar Rp 14 ribu per kilogram. Terlebih, ikan yang mabok dalam kondisi siap panen.
Diakui Eko, para pembudidaya sedang berupaya meningkatkan produktifitas. Namun, para pembudidaya ini justru keliru. Sebab, di awal tahun ini ternyata air waduk mengalami umbalan atau arus balik akibat cuaca ekstrim.
Dia menjelaskan, arus balik ini merupakan salah satu musuh pembudidaya ikan. Akibat dari arus balik ini, ikan mas jadi mabok. Akibat arus dari bawah memutar ke atas maka air seperti diobok-obok.
Kondisi ini menyebabkan, sisa pakan ikan yang mengendap, turut naik ke permukaan. Hal itu, mengakibatkan air semakin keruh dan berbusa. Akibatnya, ikan yang ada dipermukaan tak kuat dengan kondisi air seperti itu.
Dihubungi terpisah, Ketua Himpunan Pembudidaya Ikan (Hipni) Kolam Jaring Apung Waduk Jatiluhur, Darwis mengatakan, sejak tiga tahun terakhir tak terdengar lagi kasus arus balik.
Makanya, pada tahun ini para pembudidaya berloma-lomba untuk tanam ikan dengan harapan bisa meraih peruntungan menjelang Imlek mendatang.
“Namun, belum juga Imlek, umbalan telah menghapus impian para pembudidaya ini. Terpaksa, kami menahan kegetiran ini,” ujar Darwis.
Dijelaskan Darwis, jumlah KJA yang ada sekitar 17 ribu unit. Dari jumlah tersebut, 50 % diantaranya ditanami ikan yang berarti ada 8.500 kolam yang sedang produksi.
Jika dalam setiap kolam rata-rata berisi satu ton ikan, maka kerugiannya sekitar 8.500 ton. Hampir seluruh ikan yang ditanam itu dalam kondisi mabok. Bahkan, banyak yang sudah mati mendadak.
Terlebih, sambung dia, saat ini harga ikan mas mencapai Rp 14 ribu per kilogram. Jika pembudidaya merugi sekitar satu ton ikan, rata-rata kerugiannya Rp 14 juta per kolam. Kerugian ini, kemudian dikalikan dengan 8.500 kolam yang sudah ditanami ikan. Berarti nilai kerugian secara keseluruhan akibat umbalan ini, mencapai Rp 11,9 miliar.
“Kerugian akibat umbalan ini sangat besar,”pungkasnya.
sumber : budidaya-ikan.com
Share: