Sidrap, Pusat Budidaya & Pembibitan Ikan Mas Sulsel

Potensi perikanan tawar di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), sangat menjanjikan. Salah satunya adalah budidaya ikan mas.
Tidak banyak yang tahu, ternyata Sidrap adalah salah satu pusat pembibitan ikan mas di Sulsel. Sebagian besar ikan mas yang dipasarkan di Sulsel, rupanya berasal dari daerah lumbung pangan ini. Ikan yang banyak digemari karena kelesatannya ini, banyak dibudidayakan di Sidrap. Hampir semua kecamatan ada warga yang memelihara dan mengembangbiakkannya.
Data Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sidrap, sasaran produksi perikanan pada 2011 sebesar 489,12 ton, meliputi jenis ikan nila, patin, mas, dan lele. Di tahun yang sama, petani mampu merealisasikan 501,08 ton selama dua belas bulan. Khusus ikan mas, mereka mampu memproduksi hingga 441,25 ton dari target sasaran sebanyak 442,8 ton. Melihat capaian produksi petani dipastikan budi daya ikan mas di daerah ini sangat besar.
Kepala Disnakkan Sidrap, Ir Abdul Azis MM didampingi Kepala Bidang (Kabid) Perikanan, Laenggeng Kote SP di kantornya, Kamis, 6 Desember, mengatakan, selain budi daya, Sidrap kini menjadi pusat pembibitan ikan mas di Sulsel.
Laenggeng menjelaskan, khusus pembibitan ikan mas, pemerintah daerah menyiapkan sedikitnya empat Balai Pembibitan Ikan (BBI) masing-masing berlokasi di Majelling, Pangkajene, Kalosi dan Passeno.
Selain menyiapkan BBI, pemerintah melalui Disnakkan juga membuka enam unit Usaha Pembenihan Rakyat (UPR) yang berlokasi di Cipo, Lakessi, Pangkajene, Passeno dan Lawawoi.
Menurut Laenggeng, BBI dan UPR memiliki perbedaan dikaitkan dengan usaha pembibitan ikan mas. “Kalau BBI itu sepenuhnya milik pemerintah dan skopnya besar, sedangkan UPR punyanya masyarakat dan relatif kecil,” ujarnya.
Menurutnya, usaha pembibitan ikan mas di Sidrap, dilakukan dengan menggunakan berbagai metode. Namun, lanjut Laenggeng, pembenihan sekarang ini memakai model perkawinan secara alami.
“Maksudnya kita ambil jantan dan betinanya kemudian disatukan di dalam wadah semisal kolam lalu dia kawin sendiri,” ujarnya seraya mengaku metode ini cukup berhasil.
Metode lainnya yang juga banyak dilakukan petani ikan mas, menyuntikkan hormon ke ikan betina dengan tujuan merangsang ikan untuk bertelur. “Cara lain, juga dilakukan dengan sistim injus breeding, di sini petani sendiri yang mengawinkan lalu mengeluarkan telurnya kemudian dicampur dengan sperma dan ditetaskan di akuarium,” ungkap Laenggeng.
Dari tiga metode ini, katanya, petani lebih banyak menggunakan sistim perkawinan ikan secara alami. Mengapa? Dengan cara ini, selain mudah juga tidak memakan waktu serta tenaga untuk melakukannya.
Dewasa ini, lanjut Laenggeng, petani ikan mas Sidrap sudah mampu memproduksi ribuan ton ikan mas. Nah, benih-benih ikan mas inilah yang kemudian dibeli pengusaha dari berbagai daerah untuk selanjutnya dikembangkan lagi.
“Sebenarnya ada beberapa daerah tetangga seperti Wajo dan Soppeng juga melakukan hal sama, tapi heran, banyak warga tetanga itu yang justru memilih membeli benih ikan di Sidrap,” ujarnya.
Di beberapa daerah, khususnya di Sulsel dan lebih khusus lagi di kawasan Ajatappareng, ikan mas seolah sudah menjadi incaran warga. Bahkan hampir di setiap pesta pernikahan, ikan mas menjadi hidangan wajib.
Tidaklah heran, mengapa ikan mas yang banyak diproduksi di Sidrap ini, belakangan makin banyak mendapat permintaan dari daerah-daerah lainnya, seperti Makassar, Mamuju bahkan hingga Palu dan Kolaka.
Lantas, darimana bibit ikan mas ini diperoleh? Laenggeng mengatakan, benih ikan mas ini didapatkannya dari Sukabumi, Jawa Barat, tepatnya di Balai Budi Daya Besar Air Tawar (BBBAT). Di tempat ini, lanjut dia, memang sebagai pusat perikanan ikan mas.
“Jadi indukannya kita ambil dari sini, lalu kita sendiri yang mengawinkannya lalu dilakukan pembibitan hingga sekarang ini,” katanya.
Menurutnya, pembibitan ikan mas ini, bertujuan menyediakan bibit ikan mas yang unggul untuk kemudian dibesarkan menjadi ikan yang layak konsumsi. Untuk memulai usaha ini pengusaha harus menyediakan bibit ikan mas unggulan.
Ikan mas yang dibutuhkan setidaknya harus berumur satu tahun walau ada beberapa jenis ikan mas yang bisa bertelur pada umur kurang dari satu tahun. Setelah memijah (kawin), ikan mas dapat lagi dipijahkan tiga bulan kemudian.
Pemeliharaan ikan untuk bibit bisa dilakukan dengan pemberian pakan pellet 35 persen protein. Hal ini dapat menyuburkan ikan-ikan mas tersebut. Setelah mendapatkan bibitnya, pengusaha dapat menyiapkan tempat pemijahannya.
“Kalau cara tradisional, beberapa ikan ditaruh di sawah hingga menghasilkan anakan. Petani juga dapat menggunakan kolam untuk pembendihan ikan mas. Untuk merangsang pembuahan, petani melakukan pengeringan dan pemasangan kakaban. Dalam waktu singkat betina akan bertelur dan si jantan akan membuahinya,” kuncinya.
sumber : budidaya-ikan.com
Share: