Sentra lele Bogor : Menjadi tempat belajar pembenihan (3)


Lele Sangkuriang ternyata tak hanya populer di Bogor saja, tetapi sudah merambah ke luar Kota Hujan itu. Selain petani pembesar yang datang ke Cibeureum untuk mencari benih lele, banyak juga warga yang datang ke Cibeureum sekadar belajar pembenihan lele sangkuriang.

Selain menjadi tempat yang menjanjikan untuk memperoleh benih lele berkualitas, di sentra pembenihan lele sangkuriang ini juga bisa menjadi belajar bagaimana cara membudidayakan lele jenis unggul ini.

Supardi Badriawan, salah satu pembudi daya benih lele di Cibeureum mengaku kerap diminta untuk mengajarkan cara budi daya lele. "Jumlah yang belajar, sih, tidak tentu tapi pasti ada saja yang datang untuk minta diajari cara budi daya lele," ujarnya.

Ia menjelaskan rata-rata yang datang untuk belajar utusan kelompok petani lele yang tertarik mengembangkan lele sangkuriang di daerahnya. "Mereka diutus untuk belajar di sini," katanya. Kebanyakan petani yang belajar ke Cibeureum berasal dari luar Jawa Barat.

Selain petani lele, murid Supardi juga dari kalangan mahasiswa, terutama mahasiswa jurusan perikanan dan mahasiswa pertanian. Mereka sengaja datang ke Cibeureum untuk belajar membudidayakan lele sekaligus berlibur. "Mereka datang dari berbagai daerah mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga wilayah Kalimantan," ungkap Supardi, senang.

Rekan Supardi sesama pembudi daya benih lele, Ade Mulyadi, menambahkan, popularitas budi daya benih lele sangkuriang di desanya membawa manfaat yang baik bagi petani pembudi daya. Selain mendapat untung dari berjualan benih, para petani juga mendapatkan keuntungan lain berupa uang tambahan dari hasil mengajar itu. Dan tak kalah pentingnya, "Desa kami jadi terkenal seantero negeri," ujar Ade, bangga. 

Baik Supardi maupun Ade menerapkan tarif yang sama untuk kursus kilat pembudidayaan lele ini, yaitu sebesar Rp 3 juta untuk selama tiga hari belajar. Ade menjelaskan, biaya belajar tentang pembenihan lele itu memang tak murah. Maklum, pelajaran yang diberikan Supardi maupun Ade 90% adalah praktik lapangan yang butuh biaya lebih besar daripada proses belajar di kelas. 

Lagi pula, "Belajar pembenihan itu jauh lebih repot ketimbang belajar pembesaran. Karena itu dalam praktik selama tiga hari, para peserta harus sungguh-sungguh," jelasnya.

Salah satu pelajaran paling penting dalam budi daya pembenihan adalah proses perkawinan antarinduk hingga akhirnya menjadi larva. Larva inilah cikal bakal benih lele yang mempunyai nilai ekonomis. "Semua mekanisme itu butuh waktu dan ketekunan. Sedangkan kalau proses pembesaran lebih santai karena hanya memberi pakan. Setelah itu tunggu panen," imbuhnya.

Karena itu, kalau ada yang belajar proses pembesaran, Ade dan Supardi kompak menyatakan, mereka tak akan memungut biaya alias gratis. 
Kedua pembenih lele sangkuriang itu mengungkapkan, sejatinya, sosok yang memiliki andil besar dalam mempopulerkan lele sangkuriang adalah Nasrudin, warga Mega Mendung, Kabupaten Bogor. Dialah yang pertama kali membudidayakan lele sangkuriang. Karena itu, warga Cibeureum, terutama para pembenih lele, menyebut Nasrudin sebagai Bapak Lele Sangkuriang.

Di kalangan pembenih, Nasrudin adalah sosok yang baik. Dia tak segan berbagi ilmu bagaimana membenihkan lele hingga membesarkan lele dengan baik. "Termasuk pada kami ini," ujar Ade. 

(Bersambung)


sumber : kontan.co.id
Share: