Sentra: Kerapu Mandeh tembus pasar ekspor

Mandeh merupakan kawasan wisata yang cukup kesohor di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.  Menteri Pariwisata Arief Yahya bahkan menyebut kawasan Mandeh sebagai Raja Ampat versi Sumatera.
Selain daerah wisata, di kawasan ini juga banyak terdapat sentra budidaya ikan kerapu. Budidaya kerapu di Mandeh sudah berlangsung sejak 2003 silam.
Sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai pebudidaya ikan kerapu. Hasil budidaya mereka telah banyak diekspor ke berbagai negara. Pebudidaya ikan kerapu di Mandeh terbagi menjadi 30 kelompok dengan total pebudidaya mencapai 200 orang.
Rata-rata kelompok  terdiri dari lima sampai enam orang anggota. Yosmeri, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Barat bilang, total kawasan budidaya ikan kerapu di Mandeh mencapai 8.500 hektar (ha). Kawasan ini memiliki bukit-bukit yang berdekatan namun terpisah oleh laut. Setiap bukit ada satu sampai dua kelompok budidaya ikan kerapu.
Yohannes Edi, 33 tahun, salah seorang pebudidaya kerapu mengaku sudah menekuni usaha ini sejak tahun 2009. "Potensi ikan kerapu di Mandeh sangat baik," kata Yohannes yang juga Ketua Kelompok Ikan Kerapu Mandeh Tarusan. Kelompoknya ini terdiri dari lima orang anggota.
Ikan kerapu yang banyak dibudidayakan di kawasan ini jenis kerapu bebek, kerapu macan, kerapu tikus, dan kerapu cantik yang merupakan perpaduan kerapu macan dan kerapu tikus.
Bila harganya sedang bagus, 1 kilogram (kg) kerapu bisa dihargai sampai Rp 400.000. Tingginya harga inilah yang mendorong banyak penduduk Mandeh beralih profesi menjadi pebudidaya ikan kerapu.
Yohannes sendiri memiliki lahan seluas 1.000 meter persegi (m²). Lahan itu mampu memuat 20 buah keramba apung. Dengan dibantu empat karyawan, Yohannes fokus membudidayakan kerapu macan dan kerapu cantik. Ikan kerapu memiliki masa panen 18-20 bulan dengan berat 5 ons per ekor. Sekali panen, Yohannes bisa menghasilkan 500 kg-1 ton ikan kerapu.
Dengan rata-rata harga jual Rp 150.000-Rp 300.000 per kg, Yohannes bisa memperoleh penghasilan Rp 20 juta per bulan. "Tapi hasilnya tergantung penyebaran benih awal dan perawatan," ujarnya.
Ia mencontohkan jika tebar benih 2.000 ekor maka yang mati sekitar 20% persen. Bila kurang telaten dalam merawat, ikan akan stres dan tingkat kematian bisa 30%.
Pebudidaya lainnya adalah Khoirul Alam. Awalnya ia seorang pekerja di Pelabuhan Teluk Bayur. Melihat tingginya potensi budidaya kerapu di Mandeh, ia pun alih profesi. "Saya mulai beternak kerapu sejak 2010," ujarnya.
Khoirul memiliki 10 keramba jaring. Ikan kerapu yang dipeliharanya jenis kerapu tikus dengan kapasitas produksi saat panen rata-rata 300-400 kg. Sekali panen ia bisa mengantongi omzet Rp 15-20 juta. 
(Bersambung)
sumber : kontan.co.id
Share: