Sentra benih lele Sukabumi: Terkendala modal dan kekompakan (4)


Permintaan benih lele sangkuriang yang makin banyak membuat pembudidaya di Kampung Sawah, Sukabumi kewalahan. Karena itu, mereka sangat mengharapkan dukungan modal untuk menambah kolam budidaya. Selain modal, masalah ketidakkompakan kelompok dan pengiriman juga mendera sentra benih lele ini.

Modal selalu menjadi masalah klasik dalam pengembangan usaha, termasuk pembenihan lele sangkuriang di Kampung Sawah. "Belum ada dukungan modal dari Pusat Penelitian Air Tawar (PPAT) Sukabumi dan pemerintah," ungkap Ikhsan Muluk, pembudidaya lele di sentra ini.

Padahal, bantuan modal sangat dinanti-nantikan pembudidaya untuk menambah jumlah kolam pembenihan guna memenuhi permintaan yang kian membanjir. Karena stok benih lele terbatas, pembeli sering harus menunggu lebih dari setengah bulan untuk mendapat pesanannya.

Apalagi, banyak pembeli yang meminta benih lele ukuran 5-7 centimeter (cm), tapi stok yang ada hanya yang berukuran 2-3 cm. Jangankan memenuhi permintaan dari luar Jawa Barat, untuk memenuhi kebutuhan Jawa Barat yang mencapai dua juta benih lele saja, Ikhsan mengungkapkan, masih kurang banyak.

Modal terutama untuk membuka kolam ukuran baru yakni 4x8 meter senilai Rp 500.000 untuk menggenjot produksi. "Semoga tahun ini kami dapat Kredit Usaha Rakyat (KUR)," kata Ikhsan dengan penuh harap.

Masalah lain yang mendera sentra ini adalah, ketidakkompakan dalam kelompok pembudidaya khususnya soal penjualan. "Banyak yang menjual sendiri karena merasa kalau menjual lewat kelompok hasil jerih payah membangun jaringan dinikmati orang lain" ujar Ikhsan. Padahal, pembudidaya sudah sepakat penjualan dilakukan terpusat.

Ikhsan menceritakan, tahun lalu, pembudidaya punya kelompok bernama Karya Mandiri. Namun, lantaran kepengurusan semrawut akhirnya Karya Mandiri dibubarkan dan sekarang menginduk ke kelompok tani. "Kalau kompak, pasti bisa lebih maju," tegas Ikhsan.

Tak cuma tidak kompak dalam penjualan, antarpembudidaya juga kerap cemburu. Yeyep, Ketua Kelompok Rahardja Sub Lele mencontohkan, pembagian bantuan 50 indukan lele dari Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Bantuan dalam rangka Gerakan Tanam Nasional pada Juli 2009 itu akhirnya dibagi langsung ke anggota kelompok untuk menghindari kecemburuan. Padahal, Yeyep bilang, akan lebih menguntungkan bila induk dibesarkan di satu tempat. "Anggota minta dibagi ke semua peternak yang berjumlah 30 orang. Padahal, kalau jumlahnya hanya satu-dua buat apa?" katanya.

Masalah tidak berhenti sampai di situ. Pengiriman bibit lele juga menjadi kendala. Untuk pengiriman jarak jauh, Ikhsan mengatakan, benih lele agak besar butuh oksigen yang banyak. Pembudidaya belum punya teknologi untuk ini.

Makanya, mereka saat ini hanya mengirim benih lele berukuran 2-3 cm untuk tujuan jarak jauh. Soalnya, "Pernah kami mengirim ke Medan, sampai Bandara Polonia benihnya pada mati semua," ujar Ikhsan.


(Selesai)


sumber : kontan.co.id
Share: