Sentra benih lele Sukabumi: Sudah mempunyai pelanggan tetap (2)

Masing-masing pembudidaya lele di Kampung Sawah sudah memiliki pelanggan tetap. Maklum, sentra ini sudah ada sejak enam tahun lalu. Para pembeli pun tak hanya datang dari daerah sekitar Sukabumi tapi ada juga yang berasal dari luar Jawa. Omzet pembudidaya lele sangkuriang sebulan bisa Rp 6 juta per kolam.

Biasanya, pembeli yang datang ke sentra budidaya lele Kampung Sawah, Sukabumi membawa satu atau dua mobil bak terbuka. Mereka memang langsung membeli dalam partai besar. "Kalau ada barang, kami akan memberitahu pelanggan," ujar Didin Sudrajat, peternak lele di sentra ini.
Pembeli dalam jumlah besar itu membeli benih lele sangkuriang dengan harga Rp 30 hingga Rp 110 per ekor untuk benih dengan umur 14 hari sampai 48 hari.

Didin tak menampik kalau di antara pembeli itu juga terdapat tengkulak. "Beberapa penjual benih memang bergantung pada mereka," ujarnya. Tetapi, ia juga mempunyai langganan yang memiliki usaha pembesaran lele sangkuriang.

Ikhsan Muluk, pembudidaya lele di Kampung Sawah juga bercerita kalau masing-masing peternak mempunyai pelanggan sendiri. Mereka kebanyakan datang dari daerah di Jawa Barat. 

Didin, misalnya, punya langganan tetap yang berasal dari Serang dan Lampung. Biasanya, pelanggan membeli benih berumur 20 hari. "Jadi, perputaran ikan di kolam saya cepat," katanya.

Begitu juga dengan Yeyep, Ketua Kelompok Raharja Sub Lele. Ia mempunyai pelanggan yang datang dari Bogor, Cianjur, Lampung, Batam hingga Kalimantan.

Namun, para penjual benih lele di sentra ini tak khawatir pelanggannya bakal lari ke penjual lain. Sebab, mereka sudah sepakat mematok harga yang sama.

Hanya saja, Ikhsan berpesan, bila ingin membeli benih lele di Kampung Sawah ini, sebaiknya melakukan pembelian minimal 10.000 ekor. Pasalnya, penjual benih akan mengerek banderol harga jika pembelian hanya berkisar 500 ekor hingga 1.000 ekor benih lele. "Saya menyebut mereka pembeli sampingan," ujarnya. 

Harga benih lele ukuran 2-3 cm, contohnya, naik dari 
Rp 30 menjadi Rp 70 per ekor. Untuk pembelian partai kecil, harga di setiap penjual pun akan berbeda. Karena itu, kemampuan menawar mutlak diperlukan.

Menurut Ikhsan, pembelian dalam jumlah kecil juga sangat berisiko bagi penjual. Contoh, pembelian dalam jumlah 1.000 ekor bisa mengubah suhu air kolam dan mengakibatkan benih yang tersisa akan mati.

Pembudidaya di Kampung Sawah mengandalkan air pegunungan untuk mengisi kolam-kolam mereka. "Di sini airnya bening dan bebas dari pencemaran karena langsung dari gunung," kata Didin.

Rata-rata pembudidaya punya lima kolam dengan ukuran 4x8 m. Ikhsan memiliki lima kolam dengan produktivitas 10.000 hingga 25.000 ekor per kolam. Alhasil, dalam sebulan, ia bisa mendapat omzet hingga Rp 2 juta per kolam.

Demikian pula dengan Yeyep yang juga memiliki lima kolam dengan produktivitas 10.000 hingga 25.000 ekor per kolam. Namun, lantaran Yeyep fokus menjual benih umur 48 hari, penjualannya sebulan bisa mencapai Rp 2,2 juta tiap kolam. 

Berbeda dengan kedua pembudidaya itu, ukuran kolam Didin lebih kecil, 4x6 m sehingga kapasitas produksi hanya 5.000 hingga 10.000 ekor. Bila setiap kolam bisa maksimal produksinya, dari 20 kolam yang ada, Didin bisa meraup omzet lebih dari Rp 6 juta per bulan. 

(Bersambung)

sumber : kontan.co.id
Share: