Sentra benih lele Sukabumi: Bekerja lebih keras saat cuaca tak menentu (3)

Susah-susah gampang bagi pembudidaya lele sangkuriang di Kampung Sawah, untuk membiakkan ikan berkumis ini. Mereka harus merawat calon indukan yang rentan mati saat pemeliharaan. Sudah begitu, serangan penyakit selalu mengintai benih-benih lele. Para peternak pun harus bekerja keras supaya tak gagal panen.

Untuk menekuni usaha pembenihan lele sangkuriang, pembudidaya di Kampung Sawah, Sukabumi harus merogoh kocek cukup dalam. Selain mempersiapkan lahan pembenihan, mereka juga harus membeli indukan lele yang siap bertelur.

Menurut Yeyep, Ketua Kelompok Raharja Sub Lele, biasanya pembudiaya membeli calon indukan dari Pusat Penelitian Air Tawar (PPAT) Sukabumi seharga Rp 500.000 hingga Rp 600.000 per paket. Satu paket indukan berisi 15 lele, yang terdiri dari 5 lele betina dan 10 lele jantan.

Peternak memang hanya membeli indukan lele sangkuriang di PPAT. "Bila membeli ke orang lain, bisa saja bukan lele sangkuriang," ujar Ikhsan Muluk, pembudidaya lele di sentra ini. 

Makanya, PPAT pun akan menyertakan sertifikat yang menyatakan keaslian lele sangkuriang. Indukan lele dari PPTA biasanya masih berumur 8 bulan. Karena itu, pembudidaya itu harus memelihara calon indukan ini 5-6 bulan, lantaran indukan baru bisa bertelur jika sudah berumur minimal 1 tahun. 

Nah, pada waktu pemeliharaan, para pembudidaya menghadapi risiko besar. Risiko kematian saat pemeliharaan selama lima bulan selalu mengintai.

Setelah indukan lele sudah memiliki cukup umur untuk bertelur, ikan-ikan ini lalu akan ditempatkan dalam tempat terpisah. Pembiakan lele di Kampung Sawah menerapkan sistem pembiakan grading.

Demikian pula bila benih-benih lele sudah bermunculan, benih yang besar akan dipisahkan dengan yang lebih kecil. "Kalau dicampur, benih yang lebih besar akan memakan yang kecil," kata Ikhsan. Pembagiannya berdasarkan ukuran, yakni lele sepanjang 2-3 centimeter (cm), 3-5 cm, dan 5-7 cm masing-masing diletakkan di kolam yang berbeda.

Selain pemisahan, menurut Yeyep dan Ikhsan, dua hal yang harus diperhatikan dalam pembiakan lele sangkuriang adalah suhu dan kadar keasaman. Bila cuaca sangat panas, mereka akan menambahkan air seperempat dari debit air yang ada. Sedangkan kalau cuaca dingin akan dilakukan hal sebaliknya. Air dialirkan melalui pipa paralon yang sudah dilubangi kecil-kecil.

Penambahan air pun harus hati-hati karena benih lele tidak menyukai kadar asam tinggi. Salah satu cara mengurangi keasaman adalah dengan menaburkan garam kasar ke dalam kolam. "Setelah hujan turun, saya langsung menebarkan garam," ujar Ikhsan. 

Bila suhu dan kadar keasaman air tak dijaga, benih akan rentan penyakit. Untuk mencegah terjangkitnya penyakit, para pembudidaya bakal menggunakan obat-obatan yang dijual di pasaran atau vitamin lele. Kalau tidak mempan juga, biasanya pembudidaya akan meminta bantuan PPAT untuk meneliti air kolam di laboratorium.

Di antara penyakit yang menyerang benih lele, yang paling berbahaya adalah white spot dan ICH. White spot yang disebabkan oleh parasit Ichtyophitirius multifilisis dapat membunuh benih satu kolam dengan sangat cepat. Pada awal serangan, bercak putih tak terlihat. Baru saat kondisi sudah parah bercak putih tampak jelas. Sementara itu, ICH akan menyebabkan benih lele kehilangan lendir. "Karena tak punya sisik, lele akan mati oleh tekanan air," ungkap Yeyep.

Bila sudah terkena penyakit, satu kolam harus dikuras habis, dibersihkan, dan dikeringkan selama tujuh hari untuk memastikan rantai penyakit terputus.

Kalau sudah begini, para peternak gigit jari karena modal terbuang percuma. Makanya, menurut Didin pembudidaya di sentra ini harus kerja ekstrakeras. 

Sayangnya, walaupun cocok untuk pembenihan lele, mereka tak dapat membiakkan lele hingga dewasa. Menurut Yeyep, tanah di Kampung Sawah bersifat agraris hingga gampang menyerap air. "Yang cocok tanah cadas," katanya.Selain itu, cuaca malam hari yang sangat dingin tidak cocok untuk perkembangan lele hingga dewasa.

(Bersambung)

sumber : kontan.co.id
Share: