Sektor perikanan butuh kredit bank

Kalangan pengusaha di sektor kelautan dan perikanan minta perbankan dan lembaga keuangan nasional lebih ramah. Pasalnya, hingga saat ini, porsi kredit perbankan yang mengalir ke sektor perikanan nasional dinilai masih minim.
Padahal bertumbuhnya kredit di sektor tersebut bisaƂ  membuat produksi hasil perikanan ikut meningkat. Harapan itulah yang menjadi kesimpulan diskusi panel bertajuk "Makin Intim Dengan Maritim" yang diselenggarakan Media Investasi dan Bisnis KONTAN di Hotel Santika, Jakarta.
Thomas Darmawan, Dewan Penasehat Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) menjelaskan, total kebutuhan investasi perikanan tangkap tahun 2015-2019 mencapai Rp 127 triliun. Adapun total kebutuhan investasi perikanan budidaya selama periode yang sama Rp 320,73 triliun.
Kebutuhan investasi terus tumbuh setiap tahun, seiring meningkatnya target produksi perikanan. Contohnya, target produksi perikanan tangkap tahun 2016 sebanyak 6,45 juta ton atau tumbuh 2,38% dari target produksi tahun ini 6,3 juta ton. Untuk mendukung pencapaian target itu, kebutuhan investasi di sektor perikanan tangkap Rp 23 triliun.
Sementara itu, target produksi perikanan budidaya tahun 2016 sebanyak 19,45 juta ton atau tumbuh 8,65% dari target produksi tahun ini 17,9 juta ton. Adapun, kebutuhan investasi di sektor perikanan budidaya diperkirakan mencapai Rp 29,97 triliun.
Selama ini, perikanan tangkap didominasi oleh komoditas ikan tuna, tongkol, dan cakalang. Sedangkan perikanan budidaya disokong oleh komoditas ikan nila, bandeng, udang, lele, dan patin.
Andalkan modal sendiri
Persoalannya, kata Thomas, selama ini perbankan lebih tertarik mengucurkan kreditnya ke sektor industri pengolahan ikan ketimbang perikanan tangkap atau budidaya. Maklum, nilai ekonomi industri pengolahan ikan mencapai Rp 115 triliun, jauh lebih besar daripada perikanan tangkap Rp 70 triliun dan perikanan budidaya Rp 75 triliun.
Itu sebabnya, selama ini pelaku usaha perikanan lebih banyak memanfaatkan modal sendiri ketimbang mengajukan kredit ke bank. Sayang, Thomas tidak bisa menyebut komposisinya. "Hanya perusahaan besar dan tercatat di bursa yang mendapatkan kemudahan pembiayaan dari bank," keluhnya.
Kalau pun ada perbankan yang melirik sektor perikanan tangkap dan budidaya, saat ini suku bunga pinjaman bank juga masih mahal. Kondisi ini membuat daya saing perikanan Indonesia makin rendah.
Meski begitu, Thomas tetap berharap, porsi pembiayaan perbankan bisa meningkat pada tahun depan. "Melihat non performing loan (NPL) atau rasio kredit macet perikanan yang rendah, sektor ini tidak berisiko tinggi seperti persepsi selama ini," ujarnya.
Pendapat senada diungkapkan Herwindo Suwondo, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perikanan Indonesia (Gappindo). Dia bilang, daya saing industri perikanan nasional relatif lemah karena kurangnya dukungan dari industri jasa keuangan. Padahal, Indonesia harus menyiapkan diri untuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlaku mulai akhir 2015.
Slamet Edi Purnomo, Kepala Departemen Perizinan dan Informasi Perbankan/Ketua Jaring Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bilang, pelaku usaha di sektor perikanan harus bisa menggenjot lagi kinerjanya.
Sebab, saat ini, kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih kecil, yaitu hanya 3,57% per tahun 2014. Pertumbuhannya yang hanya 0,6% selama tiga tahun terakhir juga dinilai kurang signifikan.
sumber : kontan.co.id
Share: