Provinsi Bali dan Kepulauan Riau Sebagai Embrio Industri Kakap Nasional

Salah satu komoditas utama budidaya laut yang berpotensi untuk didorong menjadi sebuah industri adalah komoditas ikan Kakap. Demikian seperti yang diakui oleh Ketut Brewok pemilik PT. Bali Baramundi. Ketut menyampaikan bahwa komoditas kakap saat ini menjadi komoditas yang paling potensial untuk didorong menjadi sebuah industri. Menurutnya, input teknologi yang sudah dikuasai mulai dari pembenihan hingga pembesaran serta akses pasar yang lebih luas menjadi faktor utama bahwa komoditas ini kedepan sangat propektif untuk di kembangkan.

Walaupun saat ini diakui masyarakat kecil belum banyak terjun melakukan budidaya kakap, namun dirinya menilai melalui kerjasama kemitraan dengan masyarakat optimis ke depan usaha ini akan secara cepat menyebar ke masyarakat. Hal ini cukup masuk akal, dimana kedepan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Ditjen Perikanan Budidaya akan mulai fokus pada pengembangan marikultur di perairan offshore.

PT. Bali Baramundi yang terletak di Gerokgak Kabupaten Buleleng sejak tahun 2012 telah mulai mengembangkan budidaya kakap skala industri dengan menerapkan wadah budidaya KJA Bundar (Circle cage). Menurutnya, inovasi KJA ini sangat layak untuk diterapkan pada perairan offshore dan secara nyata mampu meningkatkan produktivitas. Menurut Ketut, jika dihitung ada peningkatan produktivitas hingga lebih dari 30% dibanding menggunakan KJA konvensional. Ketut memberikan gambaran, bahwa saat ini per unit KJA bundar dengan diameter 20 meter mampu menampung hasil produksi dengan kapasitas 40 ton, dengan perkiraan nilai produksi hingga 2,4 milyar. Namun demikian, untuk efektifitas khusus untuk pembudidaya skala kecil diameter KJA 6 meter merupakan yang paling pas dan telah memenuhi standar kelayakan secara ekonomis.

Oleh karena itu, ditambahkan Ketut, ke depan pihaknya akan melibatkan masyarakat sekitar untuk berbudidaya melalui pola kemitraan. Dia berharap Pemerintah segera merealisasikan program kebijakan yang fokus pada bisnis marikultur khususnya dalam memberikan dukungan sarana kepada masyarakat, menurutnya jika ini mampu terealisasi pihaknya akan dengan mudah untuk menjalin kerjasama kemitraan dengan masyarakat, sebagai contoh misalnya dengan pola kemitraan segmentasi usaha dan lainnya.

Pengembangan budidaya kakap skala industri juga berkembang di Kepulauan Riau tepatnya di Kabupaten Bintan, yang diinisasi oleh PT. Indomarine. Perusahaan skala nasional ini menjadi salah satu produsen kakap hasil budidaya dengan tujuan pemasaran pangsa pasar ekspor. Seiring penetapan Kepulauan Riau sebaagai pilot project pengembangan marikultur nasional, maka peran swasta seperti perusahaan besar sangat dibutuhkan khususnya dalam memberikan akses kemudahan bagi masyarakat melalui kemitraan usaha yang berkesinambungan.

Melihat perkembangan usaha budidaya kakap yang cukup pesat di Bali dan Kepulauan Riau, maka saat ini kedua Provinsi ini telah menjadi embrio bagi pengembangan industri budidaya kakap nasional.

Potret keberhasilan budidaya laut di atas merupakan bagian contoh kecil dari keberhasilan budidaya laut nasional yang sekaligus menjadi sebuah harapan baru, bahwa ke depan seiring dengan pelaksanaan RPJMN ke-3 yang akan fokus terhadap pengembangan marikultur, maka industri marikultur akan mampu benar-benar terwujud, dengan berkaca pada kemajuan marikultur yang dilakukan Norwegia. Indonesia dengan segenap potensi sumberdaya laut, mempunyai peluang besar dalam menguasai pangsa pasar produk budidaya laut dunia, disamping pemenuhan kebutuhan domestik.

sumber : dpjb.kkp.go.id
Share: