Prospek Budidaya Pohon Gaharu Cerah

Prospek budidaya pohon gaharu yang menghasilkan resin dinilai amat cerah. Resin tak hanya diminati pembeli lokal tetapi juga luar negeri.

Permintaan yang besar membuat harga resin cukup tinggi. Budidaya gaharu juga dapat dianggap sebagai langkah mendukung konservasi.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Lamandau, Joko Marwoto, di Nanga Bulik, Lamandau, Kalimantan Tengah, mengatakan, resin gaharu dari Lamandau sudah dipasarkan ke Banjarmasin, Jakarta, bahkan diekspor antara lain ke Malaysia dan Singapura.
"Saya tidak tahu pasti jumlah resin gaharu yang diproduksi Lamandau. Pemkab Lamandau masih menghitung tapi resin yang diproduksi belum mampu memenuhi permintaan," katanya.
Gaharu merupakan tanaman hutan di Indonesia. Karena itu, membudidayakan gaharu bisa dianggap mendukung pelestarian hutan.
Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi, Kementerian Kehutanan, Adi Susmianto, menjelaskan, permintaan resin juga datang dari Kuwait. Pembeli dari negara itu bersedia menerima resin hasil aplikasi teknologi dari gaharu yang disuntik dengan harga sebesar Rp 15 juta per kilogram (kg).
Sementara meurut Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang, setiap pohon gaharu yang dibiarkan tumbuh secara alami dapat menghasilkan resin sekitar dua kg. Jika kualitasnya sangat bagus, harga resin sebanyak itu amat tinggi atau mencapai Rp 58 juta.
Bupati Lamandau, Marukan Hendrik, menambahkan, gaharu saat ini sulit ditemukan di hutan, karena banyak ditebang masyarakat yang mencari resin. Kondisi tanah, topografi, dan iklim Lamandau cocok untuk gaharu tapi jika tak dilestarikan akan punah.
"Kami mendorong masyarakat membudidayakan gaharu," katanya.
sumber : kompas.com
Share: