Profil pembenihan skala kecil di kabupaten barru provinsi sulawesi selatan

    Kabupaten Barru Provinsi Sulawesi Selatan sangat potensial pada pengembangan komoditas perikanan baik tangkap maupun budidaya. Bentangan tambak yang ada seluas 2.570 Ha sementara potensi budidaya tambak seluas 5.000 Ha dan potensi budidaya pantai seluas 1.400 Ha. Untuk memenuhi kebutuhan pembesaran udang dan bandeng di tambak Kabupaten Barru pada awalnya didatangkan benih (benur dan nener) dari luar Kabupaten bahkan impor dari provinsi lain. Seiring dengan berjalannya waktu dan kemajuan teknologi yang berhasil diadopsi oleh masyarakat maka kebutuhan akan benih terutama benur udang telah dapat dipenuhi oleh produsen dengan kapasitas bekyard atau HSRT yang ada di Kabupaten Barru.

    Di Kabupaten Barru tepatnya di Kecamatan Mallusetasi Kuppa merupakan kawasan tepi pantai dengan pemandangan yang cukup bagus, ternyata disitu tumbuh perlahan-lahan usaha pendederan udang dimana para pemilik HSRT membeli nauplii pada produsen benih berskala lebih besar dengan fasilitas yang lebih lengkap serta mempunyai induk dan mampu menetaskan telur dengan target yang telah ditetapkan untuk memperoleh keuntungan.

    Darwis muda usia pelajar menyukai membaca majalah Primadona kemudian tertarik pada komoditas udang lalu berkesempatan menimba ilmu di fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin (1996). Setelah lulus Darwis bekerja pada PT Bumi Timur Perkasa hingga dipercaya menjadi manager hatcheri dan tambak selama 5 tahun. Pada suatu waktu Darwis harus lebih mengabdi pada keluarga (mengurus orang tua yang sedang sakit) sehingga tidak bisa konsentrasi penuh pada pekerjaannya. Kondisi kurang baik itu menjadikan Darwis melihat peluang penghasilan kecil-kecilan dengan memanfaatkan lahan seadanya serta ilmu dan pengalamannya di bidang hatchery. Kegiatan yang semula hanya ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan akan benih udang di sekitar lokasi usahanya (Kabupaten Barru) ternyata benur vaname dan windu yang diproduksinya bisa menyeberang ke Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah. Pada permintaan yang tinggi dimana setiap 1 orang penggelondong dan penyalur memesan 7 juta ekor benur sementara hanya bisa dipenuhi sebesar 4 juta ekor. Hal ini dikarenakan Darwis berusaha dengan adil membaginya kepada langganan lain. Dari keterpurukan situasi keluarga tersebut Darwis menganggap keputusannya untuk berhenti sebagai manager pada perusahaan perikanan adalah berkah, karena omzet produksi benurnya kemudian mencapai Rp 200-300 juta rupian per bulan (pencapaian tertingggi), hal tersebut berlangsung secara kontinyu dialaminya. Hingga 4 bulan terakhir tahun 2014 omzet penjualan benur udang vaname stabil pada kisaran 100 juta per bulan. Darwis yang membeli naupli dari produsen lokal tidak menetapkan kwalitas khusus dan menjual sesuai harga pasaran dimana benur udang windu ukuran PL11 dijual dengan harga Rp 25-27/ekor dan benur udang vaname PL8 dipasarkan dengan harga Rp 30-32/ekor. Benur windu diproduksi + 4 juta ekor/siklus atau sekitar 30 juta ekor/tahun. Sedangkan benur vaname selama 4 bulan terakhir diproduksi sebanyak 10 juta ekor/bulan, dimana menurutnya dalam satu tahun terakhir ini harga jual benur harganya naik. Dengan kapasitas produksi yang cukup menggembirakan ini Darwis mengalami masalah dengan keluar masuknya karyawan. Saat ini karyawan sebanyak 3 orang dan akan ditambah lagi sebanyak 2 orang, untuk mempertahankannya selain diberikan gaji tetap setiap bulannya dengan kebutuhan hidup yang ditanggung 100% juga mereka diberikan uang panen antara Rp 50-100 ribu/bulannya tergantung banyaknya produksi. Selain itu HSRT Darwis juga menerima siswa praktek magang yang berasal dari sekolah perikanan di Kabupaten Maros, Bone dan Sulawesi Barat.

    Darwis yang saat ini dipercaya menjadi ketua Asosiasi Pengusaha pembenihan Udang Skala Mini dan Menengah Provinsi Sulawesi Selatan sangat optimis akan usaha yang digeluti bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam asosiasi ini. Dengan SR sebesar 60-70% produksi benur ini akan dapat terserap pasar sepenuhnya mengingat kebijakan Menteri KP (Cicip Syarif Sutardjo) yang telah membuka keran ekspor udang ke Timur Tengah. Terlebih Asosiasi diberi hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Selain itu peran Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten dan provinsi sangat mendukung usaha yang dilakukan oleh Darwis dan para pembenih lainnya yang tergabung dalam komunitas Asosiasi Pengusaha Udang Skala Mini dan Menengah Provinsi Sulawesi Selatan.

    Dalam kondisi usaha yang cukup stabil dan menjanjikan ini Darwis optimis semuanya akan berjalan lancar dengan harapan pemerintah tetap konsisten memperjuangkan keberadaan pembenih dan pembudidaya udang khususnya di Sulawesi Selatan. Untuk mencapai hal itu Darwis berharap keberadaan induk yang stabil (untuk induk udang windu yang didapat dari alam) dan indukan udang vaname dengan kualitas tinggi (unggul), serta dengan mempertahankan pelaksanaan SOP-nya, untuk itu harga benih udang pada tingkat HRST dan Bekyard dapat bersaing dengan sehat. Selain itu Darwis juga berharap generasi muda perikanan lebih tertarik dan lebih banyak terjun ke bidang usaha pembenihan udang.

    Darwis dan keluarganya sangat ramah, karena telah terbiasa kedatangan tamu baik lokal maupun dari luar daerah. Walaupun telah menguasai ilmu dan teknologi pembenihan Darwis terus menambah dan mengasah ilmunya melalui seminar dan workshop mengenai pembenihan udang windu dan vaname. Darwis yang memulai usahanya dengan cara mengontrak lahan kemudian berhasil memiliki sendiri lokasi pendederan yang kini ditempatinya. baru-baru ini Darwis melebarkan lahannya dengan menambah seluas 17 meter untuk membuat bak-bak pendederan yang baru.

    sumber : dpjb.kkp.go.id
Share: