Produk kreativitas lokal sukses tembus global

Gaung mereka barangkali nyaris tak terdengar di dalam negeri. Merek-merek seperti Fortuna Shoes, Massicot, Magno, Sabbatha, Matoa, Mimsy, Jenggala hingga The Tripper lebih eksis di luar negeri. Padahal, mereka asli brand-brand lokal.
Berbekal kreativitas, kualitas wahid, produk unik, serta ramah lingkungan, mereka mendunia. Produknya berhasil menembus pasar ekspor dan menjadi buruan pasar.
Memulai usaha dari kecil alias skala mikro, kecil dan menengah atau UMKM, radio kayu Magno bikinan Singgih Susilo Kartono sukses di pasar Jepang, Amerika Serikat, Brasil, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, Australia, Selandia Baru serta negara-negara Eropa.
Kepada KONTAN, Singgih bercerita upaya menembus pasar ekspor tak tak mudah. Ia dibantu banyak rekannya dengan memasukkan radio bikinannya di online shop ternama di Jepang.
Menjadi makin dikenal lantaran seorang profesor Jepang jadi endoser radionya. "Beliau banyak membawa produk saya dalam pidatonya," katanya pada KONTAN.
Bentuknya yang unik, bahan baku yang tak biasa jadi salah penarik perhatian dan mampu membuatnya bertahan. Ia juga memilih tak royal menggeber banyak variasi model karena ingin menciptakan desain yang tahan segala zaman. "Sampai saat ini, saya hanya punya 18 varian desain Magno," ujarnya.
Brand lain yang juga sukses menembus pasar global adalah The Tripper. Produk gitar besutan tangan Muhammad Satrianugraha ini banyak dipasarkan di Belanda, Perancis, Mesir, dan Malaysia. Padahal, pria asal Bandung ini mulai memasarkan The Tripper pada 2013 lalu.
Jalan ekspor terbuka berawal di 2004 saat ia menjalin kerjasama produksi dengan perusahaan gitar asal Belanda merek Lapstik. Kerja sama ini pula yang membuka peluang bagi Hanung, panggilan kari Satrianugraha ekspor The Tripper.
Memiliki desain unik dengan bahan baku kayu mahogoni, dan bobot ringan menjadi keunggulan The Tripper. Ukuran yang mini menjadikan gitar ini terkenal sebagai gitar travel.
Gitar ini juga dilengkapi koneksi langsung ke headset sehingga suaranya tidak mengganggu orang lain. "Produk kami diterima karena harga tergolong murah dengan kualitas hampir sama dengan produksi negara lain," ujar Hanung. Produk gitar The Tripper ini dihargai US$ 450 termasuk biaya pengiriman.
Sadar ketatnya persaingan di pasar, Hanung mengaku terus melakukan riset dan pengembangan produk.
Yang juga tak kalah ngetop, adalah jam tangan Matoa. Produk bikinan Lucky Danna Aria ini menembus pasar ekspor ke beberapa negara, seperti Eropa, Amerika, Jepang, Singapura dan Malaysia. Paling banyak ke Eropa, ujar Yanuar Ilmawan, Marketing Communciation Matoa.
Matoa lebih banyak memasarkan jaringan calon pembeli lewat penjualan online. Makanya, Matoa aktif memasarkan produk barunya via tampilan website. Mulai konten, tampilan dan penggunaan dua bahasa di website jadi trik kami memasarkan Matoa, ucap Yanuar.
Dengan harga jual berkisar Rp 880.000-Rp 1,1 juta, tergantung model, Matoamenebar produk. Targetnya: Matoa ingin menjelajahi pasar United Arab Emirates dan India di tahun ini.
Tak kalah hebatnya adalah Fortuna Shoes alias FS. Ini adalah merek sepatu lokal, yang pabriknya ada di Jalan Sriwijaya, Bandung. Tak mudah ditemukan di Indonesia, sepatu ini justru beken di Jepang dan beberapa negara lain, seperti AS dan Eropa.
Dede Chandra, pria asal Tasikmalaya ini adalah perintis usaha sepatu FS ini. Merintis usaha sejak 1969, Dede menggulirkan bisnis sepatu premium berbahan kulit. Dengan harga jual berkisar Rp 2,5 juta hingga Rp juta per pasang, kapasitas ekspor Dede berkisar 3.000 pasang sepatu per bulan.
"Riset mendalam soal desain sepatu yang diminati pasar ekspor menjadi salah satu kuncinya," ujar Kiki, karyawan Fortuna Shoes.
sumber : kontan.co.id
Share: