Peternak unggas harapkan pemerintah keluarkan aturan harga


Kalangan peternak unggas mengharapkan pemerintah mengeluarkan aturan harga jual untuk mengantisipasi anjloknya harga produk ternak tersebut di pasaran saat produksi melimpah.

Ketua Umum Asosiasi Peternak Unggas Indonesia (Pinsar Unggas Nasional) Hartono dalam diskusi dengan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian di Jakarta, Kamis menyatakan, saat pasokan melimpah harga selalu jatuh seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan dalam tiga bulan terakhir.

Harga ayam broiler di Sulawesi Selatan, tambahnya, jatuh hingga di level Rp6.000-6.500 per kilogram, padahal harga patokan jualnya yakni Rp15.000 per kilogram, sehingga hal itu mengakibatkan banyak peternak yang gulung tikar.

"Ini sudah berlangsung selama tiga bulan. Banyak peternak yang terlibat utang hingga gulung tikar," katanya.

Menurut dia perlu ada alat pengendali harga seperti Bulog agar harga unggas tidak jatuh

Menanggapi hal itu, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Syukur Iwantoro mengakui memang produk unggas rentan terhadap fluktuasi harga. 

"Terkadang positif (harga naik) dan negatif (harga turun)," katanya.

Meski demikian, lanjutnya, ketika pasokan unggas berlebih, pihaknya memungkinkan membuka keran ekspor unggas, namun sejak kasus flu burung (avian influenza/AI) meluas, Indonesia tidak lagi mengekspor unggas khususnya ayam.

"Tapi memang harus diyakinkan kembali ke negara-negara lain bahwa banyak juga provinsi yang terbebas dari AI seperti Maluku Utara, Gorontalo, dan Kalimantan Barat," katanya.

Lebih lanjut, Syukur menjelaskan, untuk menetapkan harga patokan ayam perlu diskusi dengan berbagai pihak, sebab ayam harus ditetapkan terlebih dahulu sebagai pangan pokok seperti beras dan kedelai, setelah itu baru Bulog bisa turun tangan.

Sementara itu, untuk menghindari fluktuasi yang tajam juga, pihaknya memfasilitasi diskusi antar asosiasi unggas untuk mencari solusi. 

"Asosiasi ini bergabung dalam Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia untuk mencari solusi misalnya dengan mengurangi impor DOC (Day Old Chicken/ anak ayam)," katanya.


sumber : antaranews.com
Share: