Peternak masih butuh pasokan induk etawa (3)

Para peternak kambing etawa di Desa Gamol, Balecatur, Sleman, Yogyakarta dalam dua tahun belakangan ini meraup berkah dari usaha ini. Sebab, setiap tahun kambing etawa dapat melahirkan sebanyak dua kali. Masa kehamilan kambing etawa selama lima bulan. Sekali melahirkan kambing etawa betina bisa mendapat dua sampai tiga anak sekaligus.
Cukup banyak potensi di dalam usaha peternakan ini. Setelah memasuki masa panen, semua bagian dari kambing etawa baik itu daging, susu, kulit, hingga kotorannya laku dijual. Manfaat hariannya adalah susu kambing yang bisa diperah, lantas manfaat bulanannya adalah mendapatkan pupuk organik dari kotoran hewan ini. Dan manfaat tahunannya adalah berupa daging dan bibit atau kambing.
Untuk anakan yang baru berusia 2 bulan, harganya termasuk mahal. Di pasar ternak sekitar Yogyakarta dan sekitarnya, anak kambing etawa dijual seharga Rp 400.000−Rp 500.000 per ekor. Sementara untuk indukan yang siap kawin atau untuk pedaging bisa mencapai Rp 3 juta per ekor.
Meski di Desa Gamol ini banyak peternak kambing yang berbagi lahan hijau dan mengantre indukan kambing, mereka mengaku tidak merasakan adanya persaingan. Justru  berdirinya 2 kelompok ternak, Sejahtera Satu dan Sejahtera Sembada membuat semuanya terasa lebih ringan.
Kusumo Parman, anggota kelompok ternak Sejahtera Sembada menyatakan, dengan kelompok ini maka bebannya menjadi lebih ringan. Sebab mereka tidak perlu membeli indukan untuk mendapatkan bibit kambing etawa. Karena induk kambing etawa merupakan milik bersama dan tidak boleh dibawa pulang. "Yang boleh dibawa pulang hanya anakan," kata dia.
Setelah melahirkan, indukan tidak boleh langsung hamil lagi, namun harus ada jeda dua bulan agar indukan tetap sehat. Kusumo bilang, karena indukan merupakan milik bersama, sehingga para peternak harus bersabar untuk antre agar bisa mendapatkan anakan.
Di kecamatan Balecatur Gamping, juga terdapat paguyuban peternak kambing etawa yang jumlahnya sebanyak 40 orang. Biasanya jika ada kelompok yang indukannya sering sakit dan sulit hamil, maka akan dibelikan indukan baru dari uang kas yang dipungut setiap bulan.
Setelah berjalan hampir 4 tahun, kelompok ternak kambing ini jarang diperhatikan lagi oleh Dinas Sosial. Sunardi, ketua kelompok Sejatera Sembada bilang, ini mungkin karena mereka menganggap kelompok ini sudah mandiri.
Padahal ia mengaku masih memerlukan dua atau tiga indukan baru agar bisa meningkatkan produktivitas bibit dan susu. Hanya saja, tiga bulan sekali beberapa mahasiswa dari UGM sering datang untuk memeriksa kondisi kambing dan lingkungannya secara sukarela.          
(Selesai)
sumber : kontan.co.id
Share:

Pengunjung

ANIMAL FEED MATERIAL

KAMI BERGERAK DI BIDANG PENYEDIAAN BAHAN PAKAN TERNAK. BAGI ANDA YANG MAU ORDER KAMI SIAP SUPLAY

Transportasi