Petani Udang Rembang Menikmati Keuntungan

Harga udang vaname di Desa Sluke, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sempat terpuruk akibat pengaruh krisis global. Pada panen kali ini, harga udang itu naik Rp 8.000 per kilogram, dari Rp 24.000 per kilogram menjadi Rp 32.000 per kilogram.

Petani udang vaname Desa Sluke Yanto (39), mengatakan, kenaikan harga itu menggembirakan petani udang vaname. Para petani yang sempat merugi pada panen tiga bulan lalu, kembali meraup keuntungan.
Dengan sebaran benih udang vaname sebanyak 225.000 ekor di tambak seluas 0,75 hektar, Yanto mampu memanen 2,4 ton udang vaname ukuran 90. Artinya, setiap kilogram, Yanto menghasilkan 90 ekor udang vaname.
"Meskipun angin musim barat memengaruhi kadar garam dan pembesaran udang lambat, udang itu terbebas dari penyakit spot atau bintik putih," kata Yanto.
Dengan modal Rp 45 juta, Yanto meraup keuntungan kotor sekitar Rp 31,8 juta. Pasalnya, pembeli menebas seluruh udang vaname di tiga tambak senilai total Rp 76,8 juta.
Petani tambak lain, Arifin (40), mengemukakan hasil panenan udang vaname sekitar 2 ton atau senilai sekitar Rp 64 juta. Hasil itu lebih besar ketimbang panen tiga bulan terakhir, Rp 48 juta.
"Keuntungan kotor saya pada panen kali ini sekitar Rp 25 juta," kata pemilik tambak seluas 1,5 hektar itu.
Secara terpisah, pemborong udang vaname asal Rembang, Achmad (33), mengatakan, harga udang vaname tinggi lantaran pasar luar negeri mulai membaik. Melalui PT BMI Surabaya, udang itu dipasarkan ke Jepang dan Amerika. "Tiga bulan lalu, harga udang vaname sempat jatuh lantaran pengaruh krisis global," kata dia.
Awal tahun ini, lanjut Achmad, bisnis udang vaname menggeliat kembali. Daerah-daerah penghasil udang vaname, seperti Kendal, Semarang, dan Pati, mulai berlomba-lomba menebar benih lagi, setelah tiga bulan vakum. 
Gelombang pasang  
Meskipun hasil panenan baik, petani udang vaname kerap khawatir terhadap gelombang pasang akibat angin musim barat dan timur yang berpotensi merusak tambak. Pasalnya, jarak antara tambak dan lepas pantai antara 15 dan 20 meter.
Setiap tahun tiga kali, Yanto memperbaiki dan meninggikan tanggul tambak. Petani lain ada yang memperkuat tanggul dengan pecahan batu karang dan karung-karung pasir.
"Dalam setahun, saya menghabiskan uang sekitar Rp 10 juta untuk perawatan tambak dan perbaikan tanggul," kata Yanto.
sumber : kompas.com
Share: