Permintaan naik, produksi kerapu tumbuh 28,57%

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) semakin gencar menggenjot produksi ikan tahun ini. Setelah berniat meningkatkan produksi ikan tuna dan gurami, instansi ini juga menargetkan peningkatan produksi ikan kerapu. Maklum, permintaan kerapu dari luar negeri makin meningkat.
Tahun ini KKP menargetkan produksi kerapu sebanyak 9.000 ton. Menurut Ketut Sugama, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perikanan KKP, jumlah tersebut naik 28,57% dari realisasi produksi kerapu tahun lalu yang sebanyak 7.000 ton. Adapun negara-negara yang menjadi tujuan ekspor jenis ikan ini diantaranya China dan Hong Kong. "Permintaan dari China dan Hong Kong terus naik," ujar Ketut.
Sebetulnya, target KKP ini terbilang berani. Sebab, sejak awal tahun lalu, banyak sentra budidaya kerapu di beberapa daerah kelimpungan. Penyebabnya, wabah virus nerve necroses dan irido menyerang ikan kerapu. Dua jenis virus ini menyerang pusat saraf retina dan kekebalan tubuh kerapu dan menyebabkan kematian ikan ini. Virus ini sekaligus menjadi tantangan pembudidayaan ikan kerapu di Tahun Kelinci ini.
Mengatasi kendala tersebut, Ketut mengatakan, KKP berupaya mengembangkan vaksin untuk mengatasi serangan dua jenis virus tersebut. KKP juga berniat memperbaiki teknologi pembudidayaan ikan kerapu yaitu dengan menerapkan teknologi biosecurity yang berfungsi mencegah timbulnya penyakit.
Lalu, kata Ketut, seluruh kolam budidaya kerapu tahun ini juga akan diusahakan agar sesuai standar, baik dalam sistem pengairan, maupun tingkat kepadatan ikan. "Kami terus menyosialisasikan hal ini karena sangat penting mencegah penyebaran virus," ujar Ketut.
Demi menjaga keberlangsungan budidaya kerapu, KKP bakal menggiatkan budidaya benih jenis ikan tersebut. Instansi ini akan menggenjot produksi benih kerapu antara lain di Pulau Morotai, Maluku Utara. Di sentra pembibitan ini, KKP akan membudidayakan benih kualitas unggul yang tahan serangan virus.
Nah, benih hasil produksi di Morotai ini bakal dipasok ke seluruh Indonesia. Selain memenuhi kebutuhan benih kerapu di dalam negeri, hasil pembiakan benih dari Morotai juga akan diekspor.
Saut Hutagalung, Direktur Pemasaran Luar Negeri KKP menambahkan, sebagian besar produksi kerapu nasional dilempar ke pasar ekspor. Ikan kerapu ini biasanya diekspor dalam keadaan hidup, karena harga kerapu hidup lebih tinggi ketimbang harga kerapu beku.
Menurut Saut, saat ini harga kerapu hidup di luar negeri bisa mencapai Rp 400.000 per kg. "Bedanya jauh dengan kerapu beku, karena harga kerapu beku hanya Rp 170.000 per kg," tandas Saut.
Thomas Dharmawan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) menjelaskan, pembeli kerapu dari luar negeri, terutama dari China, memang meminta kerapu hidup. Mereka memanfaatkan ikan kerapu segar ini untuk memenuhi keperluan restoran.
Ikan kerapu termasuk salah satu ikan yang tahan hidup lebih lama jika dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Eksportir juga sudah memiliki teknologi dalam pengiriman kerapu.
Walhasil, pemenuhan kerapu hidup sesuai permintaan pembeli di luar negeri bukan halangan. Dus dengan begitu, pengusaha bisa tetap mendapatkan harga yang tinggi di pasar luar negeri.
sumber : kontan.co.id
Share: