Perbaikan teknologi produksi massal benih ikan kakap putih untuk mendukung industrialisasi budidaya laut

    Ikan kakap putih dapat dijumpai dihabitat aslinya di perairan pantai/laut dengan kedalaman 1-10 m, dan muara sungai di wilayah pantai utara Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera. Adaptasi terhadap salinitas cukup tinggi sehingga dapat ditangkap pada perairan sungai selama masih terdapat air asin yang bercampur dengan tawar karena ikan kakap putih temasuk jenis euryhaline. Ikan kakap putih bertelur dan menetaskan telurnya pada salinitas rendah, dalam fase hidupnya akan kembali ke laut. Pada berat dibawah 2 kg ikan kakap putih belum dapat ditentukan jenis kelaminnya. Ikan kakap putih betina dapat mencapai berat 20-40 kg dan jantan 3-10 kg, daging ikan kakap tergolong lezat. Ikan kakap putih menjadi salah satu kandidat komoditas industrialisasi budidaya perikanan karena relatif mudah dibudidayakan dan pertumbuhan relatif cepat, warna daging putih dan sintasan yang tinggi serta adaptasi pakan cukup mudah. Nama lainnya adalah Barramundi, Asian Seabass dan Giant Perch.

    Kegiatan perbaikan teknologi produksi massal benih ikan kakap putih (Later Calcarifer) ini dilaksanakan oleh Tinggal Hermawan bertempat di Balai Budidaya Laut Batam pada tahun 2014. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan produksi massal benih ikan kakap putih secara kontinyu dan berkualitas melalui perbaikan teknologi.

    Langkal awal yang dilakukan adalah pemilihan induk yang sehat (tidak sakit, tidak luka, memiliki sperma atau telur yang baik) serta umur jantan dan betina kurang lebih sama yaitu induk jantan minimal berumur 2-2,5 tahun dan betina 3-4 tahun. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar (jenis selar/selaroidea dan tanjan/saldinella), cumi-cumi, pellet dengan kandungan protein tinggi dan vitamin C, E serta multivitamin, dengan dosis 3% dari berat badan. Sebelum dipijahkan dengan rangsang hormoral terlebih dahulu dilakukan seleksi induk dengan cara striping untuk jantan dan kanulasi pada induk betina. Pemeliharaan dan pemijahan dilakukan pada sistem resirkulasi. 

    Faktor lingkungan yang perlu diperhatikan dalam pemijahan dan pemeliharaan larva adalah salinitas, pH, oksigen terlarut, suhu, amonia dan nitrit. Pertumbuhan dan kelulusan hidup kakap putih dipengaruhi oleh faktor luar dan dalam, faktor dalam meliputi genetis, umur dan jenis. Sedangkan faktor luar sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan/kualitas air dan kepadatan. Pengaruh kualitas air sangat menentukan pada kelulushidupan, reproduksi, pertumbuhan dan produksi. Fasilitas dalam kegiatan ini (bak larva dan seluruh perlengkapannya) harus bersih dan bebas parasit

    Kualitas larva dan benih ditentukan ditentukan oleh kualitas telur yang akan ditetaskan, untuk itu dilakukan seleksi telur dengan memisahkan telur yang bagus (transfaran, mengapung/melayang, berbentuk bulat, dan kuning telur berada di tengah) dan telur yang jelek (mengendap dan berwarna putih susu). Telur yang telah diseleksi kemudian ditetaskan dalam bak penetasan berupa bak fiberglass berbentuk conical dengan kepadatan telur 200-300 butir/liter. Padat tebar benih merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan usaha pembenihan serta berkaitan erat dengan pertumbuhan dan angka kelulushidupan. Selain itu pakan memegang peranan utama dalam keberhasilan pembenihan. Yang perlu diperhatikan adalah jenis pakan, ukuran pakan, dosis dan frekuensi pemberian pakan seperti tabel berikut.

    sumber : dpjb.kkp.go.id
Share: