PELABUHAN UNTIA DORONG TARGET EKSPOR PERIKANAN INDONESIA

Peresmian Pelabuhan Perikanan Untia oleh Presiden Joko Widodo menandai beroperasinya pelabuhan yang terletak di kawasan industri Makassar (KIMAH) dan dekat dengan Pelabuhan Umum untuk ekspor tersebut. Dalam sambutannya, Presiden mengharapkan pengembangan pelabuhan Untia ini dapat memberikan solusi untuk meningkatkan produksi perikanan Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar, sehingga mampu mendorong target ekspor perikanan Indonesia.
“Jadi dengan pelabuhan Untia ini kita dorong pertumbuhan perikanan di Sulawesi Selatan karena lokasinya sangat strategis. Selain itu juga membantu meraih target ekspor perikanan di Makasar yang hampir 10 persen dari PDB perikanan nasional sendiri”, ungkap Presiden dalam sambutannya di Pelabuhan Perikanan Untia Makassar.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan, nantinya prlabuhan ini akan mendukung aktifitas nelayan di zona Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 713, yang meliputi Selat Makassar, Teluk Bone, Laut Flores dan Laut Bali dan memiliki potensi sumber daya ikan hingga 929.700 ton per tahun. “Pelabuhan di Paotere sudah padat makanya dipindah ke sini. Ini juga mengantisipasi dari pada perikanan tangkap yang melimpah”, ungkap Susi.
Dalam laporannya, Susi juga memuji kehebatan nelayan asal Sulawesi, khususnya kepada nelayan Bugis Makassar di Sulawesi Selatan. Namun demikian, kehebatan nelayan Bugis-Makassar juga dikenal sering digunakan untuk melakukan penangkapan ikan yang dengan cara yang tidak ramah lingkungan. Beberapa nelayan asal Sulsel diketahui sering melakukan pengeboman ikan di wilayah perairan lain. Ia pun berharap agar mulai saat ini, para nelayan Sulawesi untuk menjadi merubah kebiasan yang tidak baik itu, karena dapat membahayakan jiwa dan keselamatan nelayan.
Sebelumnya pada kunjungannya ke beberapa pulau di Indonesia, Susi sering mendapatkan keluhan masyarakat atas pengeboman ikan yang dilakukan nelayan Indonesia. Selain itu, perburuan ikan hiu sampai ikan napoleon sampai ke Australia juga paling banyak dilakukan nelayan dari Sulawesi. Termasuk Makassar dan Kendari menjadi penyuplai ikan napoleon ke luar negeri.
“Dalam pemberian bantuan, Sulawesi menjadi penerima bantuan paling banyak. Kenapa? Karena mereka terkenal dengan pelaut-pelaut handal. Sampai ke Jayapura, NTT. Tapi saya mohon, mulai hari ini jangan ada yang ngebom pake bius lagi ya”, lanjutnya.
Susi juga menjelaskan bahwa program asuransi bagi para nelayan tersebut merupakan bagian dari visi pemerintah yang hendak meningkatkan sektor kelautan dan perikanan nasional. Hal tersebut merupakan bukti komitmen pemerintah sesuai dengan Undang-Undang Perikanan untuk melindungi para nelayan. “Kehidupan nelayan rentan kalau kepala keluarganya terjadi apa-apa. Negara harus hadir, wajib hadir,” tegas Susi.
Untuk itu, pada kesempatan tersebut Susi memberikan bantuan asuransi secara simbolis untuk 10.000 nelayan dì Sulawesi Selatan. Asuransi bagi para nelayan tersebut akan memberikan jaminan sebesar Rp. 200 juta bagi keluarga nelayan yang meninggal saat berada di lautan, Rp. 160 juta bagi para nelayan yang mengalami kecelakaan kerja, Rp. 80 juta bagi para nelayan yang mengalami cacat, serta Rp. 20 juta sebagai plafon untuk pengobatan. “Asuransi sebagai perlindungan nelayan dan juga sesuai dengan keinginan pemerintah untuk meningkatkan industri dan jumlah dari sektor perikanan”, lanjut Susi.
Selain itu, diberikan pula bantuan berupa 5 unit kapal penangkap ikan 3 Gross Tonnage (GT) senilai 768.245.000 rupiah dan beberapa jenis bantuan bagi para nelayan lainnya.
Dalam peresmian tersebut, Susi juga mengundang investor luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia. “Investor Rusia, Blackspace Resources, sudah berminat untuk membangun unit pengolahan dan cold storage berkapasitas 300 ton di sini,” lanjutnya.
Susi berharap, pelabuhan Perikanan Untia dapat bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis perikanan dengan cepat dan memenuhi target produksi perikanannya 1.680 ton per tahun.
Selain Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Presiden dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo juga didampingi Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Staf Khusus Presiden Johan Budi, dan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo.
sumber : kkp.go.id
Share: