Panen sempat gagal tersapu ombak besar (2)

Sentra budidaya rumput laut di Desa Lalombi, Kecamatan Benawa Selatan, Kabupaten Donggala, Palu, Sulawesi Tengah sempat mengalami masa sulit. Salah satunya saat mengalami gagal panen tahun lalu.
Seluruh petani mengalami gagal panen karena datang gelombang laut sangat besar, yang merusak seluruh  rumput laut yang dibudidayakan petani. Setelah peristiwa itu, para petani rumput laut banyak kembali ke profesi awal untuk mengumpulkan modal agar bisa membeli bibit kembali.
Seperti dilakukan Latief, salah seorang petani rumput laut yang baru menekuni usaha ini pada 2010. Usaha ini merupakan pekerjaan sambilannya selain menjadi guru agama islam di sekolah dasar di wilayah tersebut. Saat gelombang besar merusak pertanian rumput lautnya, ia pun kembali fokus mengajar.
Selain gangguan alam, para petani rumput laut juga sempat dipermainkan oleh para pedagang pengumpul (pengepul). Peristiwa itu terjadi ketika masih masa awal-awal merintis usaha.
Saat itu, rumput laut mereka dihargai murah.  “Waktu itu kami tidak tahu harga dan masih pertama panen rumput laut,” cerita Latief, salah seorang petani rumput laut. Saat itu, hasil panen rumput laut hanya dihargai Rp 2.000 per kilogram (kg). Itu pun mereka menjual langsung ke Kota Palu.
Mereka mendapat harga murah dengan alasan stok rumput laut dari petani masih menumpuk. Namun, setelah mengalami beberapa kali panen, para tengkulak mulai berdatangan ke wilayah mereka. Akhirnya, petani kini tidak repot lagi memasarkan seluruh hasil panennya.
Bahkan, mereka kini kesulitan memenuhi seluruh permintaan tengkulak karena jumlah bibit yang terbatas. Rumput laut dapat dipanen setelah usia tiga bulan sejak disemai. Saat itu, para petani akan ramai-ramai ke tengah laut dengan kapal untuk mengangkat seluruh hasil panennya.
Kebanyakan, petani disana menjual rumput laut dalam kondisi kering. Menurut Latief, bila panen tiba, banyak petani yang menjemur rumput lautnya di sekitar bibir pantai.
Nantinya, banyak tengkulak yang datang untuk mengambil hasil panen mereka.

Soal harga memang tidak menentu. Panen lalu rumput laut mereka dihargai Rp 10.000 per kg dalam kondisi kering. Bila dikalkulasi, sekali panen Latief dapat mengantongi omzet sekitar Rp 50 juta.
Petani lainnya, Mukramin juga mengantongi omzet puluhan juta. "Sekitar Rp 30 juta," katanya. Menurutnya, hasil panen itu cukup untuk hidup selama tiga bulan dan modal tanam. Ia bilang, biaya perawatan rumput laut hanya sekitar 30% dari omzet. Rata-rata, para petani yang ada di Desa Lalombi mengambil bibit rumput laut dari Sulawesi Barat.  
(Bersambung)
sumber : kontan.co.id
Share: