Pada 2015, target produksi ikan budidaya meleset

Produksi perikanan budidaya sedikit meleset dari target pada 2015. Namun, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari perikanan budidaya justru berhasil melampaui target.
Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bilang, capaian produksi perikanan budidaya pada 2015 sebesar 17,6 juta ton.
Padahal, sebelumnya, dia sempat bilang target produksi perikanan budidaya 2015 adalah 17,9 juta ton. "Capaian produksi akan terus ditingkatkan pada 2016, dengan target mencapai 19,4 juta ton," ujar Slamet.
Komoditas utama yang diunggulkan KKP tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu rumput laut dan udang, baik udang windu maupun vaname.
Selain produksi, KKP juga terus menggenjot target PNBP. Pada 2015, PNBP untuk perikanan budidaya mencapai Rp 18,9 miliar atau 162% dari target. 
Untuk mencapai target produksi perikanan budidaya tahun ini, salah satunya melalui program Pembangunan Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi (KKP), atau pembangunan di pulau terluar dan perbatasan. 
"Dukungan akan kami berikan dengan melihat potensi wilayah, bisa berupa kebun bibit rumput laut, karamba jaring apung (KJA), benih ikan, dan paket bantuan lainnya," terang Slamet.
Oleh karena itu, KKP akan mengalokasikan 80,04% anggaran Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, atau senilai Rp 1,3 triliun untuk program ini. 
KKP optimistis produksi perikanan budidaya bisa terus meningkat mengingat potensi lahan di Indonesia amat luas, mencapai 11,8 juta hektare (ha) untuk budidaya air laut, 2,3 juta ha untuk budidaya air payau, dan 2,5 juta ha untuk budidaya air tawar dan baru sebagian kecil yang telah termanfaatkan.
Namun Ketua Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Safari Azis bilang, angka produksi yang dirilis KKP itu terlampau besar dan optimistis. Soalnya, KKP menghitung produksi rumput laut dalam bentuk rumput laut basah. Padahal, rumput laut hanya bisa dijual setelah dikeringkan.
ARLI mencatat, produksi rumput laut kering pada 2015 hanya 1,7 juta ton. Hampir seluruh produksi rumput laut itu diserap oleh pasar ekspor.
Sayang, Safari mengaku belum memasang target tahun ini. "Kami menargetkan produksi terus naik karena nilai penjualan di pasar ekspor sedang bagus akibat pelemahan rupiah," jelasnya.
sumber : kontan.co.id
Share: