Menjadikan bandeng sebagai penggerak ekonomi masyarakat

    Mendorong peningkatan produksi bandeng menjadi sebuah keniscayaan, bukan hanya itu saja peningkatan kapasitas usaha menjadi bagian yang sangat penting sebagai indikator dampak usaha bandeng terhadap aspek sosial ekonomi masyarakat, sehingga secara nyata mampu menjadi pendorong dan pengggerak ekonomi lokal pada sentra-sentral produksi.

    Beberapa kisah sukses di bawah ini menjadi potret bagaimana usaha budidaya bandeng mampu merubah status sosial ekonomi masyarakat di beberapa sentral produksi antara lain sebagai berikut :



    KOPMIR “Karya Bersama” Pionir Industrialisasi Bandeng di Kendal

    Koperasi Masyarakat Industri Rakyat atau disingkat KOPMIR menjadi potret bagaiamana peran kelembagaan ini mampu mewujudkan sebuah bisnis uusaha bandeng secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Berawal dari terbentuknya sebuah LSM-Industri Rakyat tahun 2005, Dedi Rosyidin yang saat ini menggawangi kelembagaan KOPMAR “Karya Bersama” dan salah satu pengurus Asosiasi Pelaku Usaha bandeng Indonesia (ASPUBI), menyampaikan bahwa dengan melihat potensi budidaya bandeng yang ada di Kendal, beliau bersama rekan-rekanya tergerak untuk membetuk sebuah kelembagaan koperasi tepatnya sejak tahun 2008.

    Sampai saat ini KOPMIR “Karya Bersama” telah membawahi sekitar lebih kurang 20 Pokdakan bandeng yang terdiri dari 1.150 orang pembudidaya yang tersebari dari ujung barat Kecamatan Rowosari hingga ujung Timur Kecamatan Kaliwungi dengan kapasitas produksi awal rata-rata pertahun hingga mencapai 4.000 ton bandeng segar ukuran konsumsi dengan rata-rata pendapatan pembudidaya mencapai hingga 3-5 juta per bulan. Seiring dengan pengenalan tekknologi budidaya  bandeng yang mulai dikenallkan Ditjen Perikanan Budidaya di beberapa daerah khusunya di Pantura Jawa Barat, telah secara nyata mampu meninngkatkan animo masyarakat di beberapa daerah lain. Menurut Dedi, dirinya akan mendorong terhadap penerapan transpormasi teknologi dari semula tradisional menjadi semi intensif, ini penting dalam upaya meningkatkan produktivitas bandeng dengan ukuran yang diinginkan sesuai standar pasar. Ditambahkan Dedi, pihaknya mellalui penerapan budidaya semi intensif menargetkan produksi bandeng konsumsi hingga 10.000 ton per tahun dan ini diakuinya sudah mulai berjalan dengan baik.

    Terkait dengan jaminan akses pasar, menurut Dedi, yang juga merupakan peraih penghargaan perintis industrialisasi bandeng, saat ini lembaganya telah membangun outlet yang secara langsung menampung produksi hasil budidaya, disisi lain dalam upaya meningkatkan nilai tambah produksi, pihaknya mendorong diversifikasi produk olahan, dimana saat ini menjadi “brand image” lokal Kabupaten Kendal. “ Jadi sekarang orang yang berkunjung ke kota kendal wajib untuk membawa oleh-oleh berbasis bandeng yang telah menjadi ciri khas kendal”, ujar Dedi bangga. Outlet yang didirikan tersebar di tiga lokasi yaitu Gemar Ikan Resto, Soko Desa Resto dan Poklasar, bahkan menurutnya lembagannya saat ini telah tergabung dalam keanggotaan Persatuan Hotel dan Resto Indonesia (PHRI). Yang menarik dan patut dijadikan contoh, bahwa outlet Gemar Ikan Resto dikhususkan untuk generasi muda usia sekolah. Menurutnya ini sejalan dengan program kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mendorong ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

    Upaya KOPMAR “Karya Bersama” patut menjadi bahan referensi dan model pengembangan Industrialisasi bandeng pada sentral-sentral produksi di daerah-daerah lain.



    Pokdakan “Mina Lestari” berkembang karena dampak demfarm

    Berawal dari kebijakan pengembangan demfarm budidaya bandeng yag dialokasikan pada lahan milik Pokdakan “ Mina Lestari” di desa Lontar Kecamatan Kemiri Kabupaten Tangerang,yang memperkenalkan teknologi budidaya udang semi intensif. Kebijakan stimulan melalui dukungan input produksi telah secara nyata berdampak terhadap peningkatan produktivitas. Diakui Aris Suhendar, Ketua Pokdakan “Mina Lestari”, bahwa dari lahan 10 hektar pada awalnya anggota kelompok melakukan budidaya secara tradisional dengan produksi berkisar antara 800 – 1.000 kg per hektar, namun dengan adanya pengenalan budidaya semi intensif saat ini produuktivitasnya meningkat hingga 5.000 kg per hektar.

    Keberhasilan tambak percontohan budidaya Bandeng pada Pokdakan “Mina Lestari” secara langsung akan menunjukkan bahwa usaha budidaya bandeng dapat menjadi alternative usaha yang menjanjikan dan secara nyata mampu meningkatkan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja yang signifikan. Disamping itu, keberhasilan tambak percontohan bandeng ini diharapkan akan kembali menumbuhkan minat dan respon masyarakat untuk kembali terjun berbudidaya bandeng serta akan menjadi embrio bagi pengembangan usaha budidaya bandeng khususnya di Pantura Banten dan umumnya di Pantura Jawa. Diharapkan ke depan, aktivitas usaha budidaya ini tidak berhenti pada tataran pelaksanaan program saja, namun harus terus berkelanjutan. Disamping itu kelembagaan kelompok perlu terus diperkuat dan dijalankan dengan baik, karena merupakan factor utama dalam membuka peluang dalam mendapatkan akses produksi, pasar dan permodalan.

    Berbagai potret keberhasilan usaha budidaya bandeng di beberapa daerah, menjadikan peluang besar bagi Indonesia untuk mewujudkan industrialisasi bandeng nasional sebagai bagian upaya dalam mendorong terwujunya ketahanan dan kedaulatan pangan nasional, disisi lain dari aspek ekonomi makro peningkatan produksi bandeng akan mampu memberikan kontribusi besar terhadap pergerakan ekonomi nasional.

    Merujuk pada data yang direlease FAO, menunjukkan bahwa posisi Indonesia terhadap produk bandeng dunia, pada Tahun 2011 Indonesia mampu menjadi produsen bandeng terbesar dunia dengan kontribusi sebesar 52,4% disusul Philipina dengan share sebesar 41,8% (sumber : Fishstat FAO, Maret 2013). Produksi bandeng di dunia Tahun 2011 sebesar 891.407 ton. Angka ini menjadi peluang bagi Indonesia dalam memainkan peran utama bisnis bandeng baik pada untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun orientasi ekspor.

    sumber : dpjb.kkp.go.id
Share: