Laba berpendar dari budidaya cabai warna-warni (1)

Seperti tanaman lainnya, cabai juga mempunyai banyak varian. Salah satu varian cabai yang kini sedang ramai dibicarakan adalah cabai warna-warni atau cabai pelangi. Cabai dengan nama asli bolivian rainbow ini berasal dari Amerika Selatan. Bentuknya seperti cabai rawit besar. Rasanya juga pedas dan bisa untuk teman menyantap gorengan.
Namun, di Indonesia, cabai pelangi lebih banyak dijadikan tanaman hias. Bibit cabai ini banyak dijual di jagad online karena permintaannya memang tinggi. Salah seorang pembudidaya sekaligus pedagang bibit cabai pelangi adalah Bayu Tedja Perdana di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia sudah dua tahun menekuni usaha ini.
Awalnya, ia membeli benih dari Negeri Paman Sam dan membudidayakannya. Hingga saat ini, dia mempunyai sekitar 250 pohon cabai yang terdiri dari 100 jenis varian. Beberapa di antaranya adalah bolivia rainbow, cabaca roxa, dan white devil tongu’e.
Laki-laki yang kerap disapa Bayu ini membudidayakan cabai di lahan seluas 700 meter persegi (m²). “Sebenarnya tanaman ini sudah pernah populer dua tahun lalu, tapi hanya di kalangan komunitas cabai hias,” katanya.
Karena sekarang sedang naik daun lagi, Bayu mulai gencar menjual tanaman yang identik dengan rasa pedas ini. Dia membanderol harga benih cabai pelangi mulai Rp 10.000 yang terdiri dari enam biji cabai, dan Rp 12.000 untuk 12 biji cabai.
Dalam seminggu dia menerima 10 hingga 20 pesanan dari seluruh wilayah Indonesia. Dalam sebulan dia bisa mendapat omzet Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Meski omzetnya masih kecil, laba bersih yang didapatnya besar, yakni sekitar 80% dari omzet.
Keuntungannya besar karena benih yang dijual hanya berupa biji. Nah, dalam satu buah memiliki biji dalam jumlah cukup banyak. Hingga saat ini, Bayu tidak melayani permintaan pohon cabai pelangi karena rusak bila dikirim dalam jarak jauh.  
Pembudidaya lainnya adalah Reza di Semarang, Jawa Tengah. Ia sudah hampir setahun membudidayakan cabai pelangi. Menurutnya, tidak ada perbedaan rasa cabai pelangi dengan cabai lainnya.  "Rasanya bahkan agak lebih pedas dari cabe merah biasa," kata Reza.
Kendati bisa dikonsumsi layaknya cabai pada umumnya, kebanyakan orang membeli tanaman cabai ini bukan buat dikonsumsi. Tapi buat tanaman hias. Saat ini, Reza mengelola lahan seluas 2 m x 6 m untuk membudidayakan cabai rainbow. Dari lahan tersebut, ia menghasilkan 1.000–2.000 butir cabai setiap panennya.
Reza menjual biji cabai yang sudah dikemas. Satu paketnya berisi 10 biji–50 biji cabai, dengan harga Rp 20.000-Rp 30.000 per paket. Reza mengaku, bisa meraup omzet Rp 5 juta per bulan. 
(Bersambung)
sumber : kontan.co.id
Share: