Kepiting Soka, Bisnis Berdarah

Siapa yang pernah menyantap kepiting soka? harap angkat tangan. Ya, kepiting soka atau kepiting lemburi atau bahasa bule nya disebut “soft shell crab” adalah sebutan untuk kepiting yang dikonsumsi dalam keadaan kulit yang masih lunak karena baru berganti kulit / moulting. Tentu saja sebelum dikonsumsi harus di masak terlebih dahulu sesuai selera.

Daging kepiting rendah lemak, tinggi protein, serta sumber mineral dan vitamin. Meski mengandung kolesterol, daging hewan ini rendah kandungan lemak jenuh. Selain juga merupakan sumber niacin, folate, dan potasium, vitamin B12, phosporous, zinc, copper, dan selenium. Selenium berperan mencegah kanker dan perusakan kromosom, serta meningkatkan daya tahan terhadap infeksi virus dan bakteri. Selain itu, Fisheries Research and Development Corporation di Australia melaporkan bahwa dalam 100 gram daging kepiting bakau mengandung 22 mg Omega-3 (EPA), 58 mg Omega-3 (DHA), dan 15 mg Omega-6 (AA) yang begitu penting untuk pertumbuhan dan kecerdasan anak.

Kepiting soka sangat digemari oleh pecinta kuliner sea food, karena kepiting lunak/soka, selain tidak repot memakannya karena kulitnya tidak perlu disisihkan, nilai nutrisinya juga lebih tinggi, terutama kandungan chitosan dan karotenoid yang biasanya banyak terdapat pada kulit kepiting berfungsi menyerap lemak dan kolesterol, selain racun-racun lain , semuanya dapat dimakan .

Soft shell crab adalah salah satu produk andalan usaha perikanan laut di Indonesia . Permintaan pasar lokal maupun luar negeri yang terus meningkat untuk produk kepiting yang satu ini, membuat banyak penduduk pesisir Indonesia mengadu nasib untuk memproduksinya.

Bahan baku yang berlimpah dan geografis Indonesia yang ditaburi lebih dari 17.500 pulau dan dikelilingi garis pantai sepanjang 81.000 km yang merupakan terpanjang di dunia setelah Kanada , dan di sepanjang pantai tersebut, yang potensi sebagai lahan tambak ± 1.2 juta Ha , dan yang digunakan sebagai tambak udang baru 300.000 Ha. (Dahuri, 2005) , membuat bisnis kepiting soka semakin menggeliat di Indonesia, dan yang pasti harga jualnya yang menggiurkan dan permintaan yang terus meningkat adalah faktor utama yang merangsang masyarakat perikanan untuk rela bekerja keras diiringi dengan tetesan keringat , air mata dan bahkan juga cucuran darah. Berdarah bukan karena kasus rebutan lahan yang menyulut pertikaian lho, tetapi karena proses budidaya kepiting nya yang memang memerlukan kombinasi pengorbanan tersebut di atas.

Empat bulan yang lalu, berbekal dengan modal seadanya dan sedikit pengetahuan tentang budidaya kepiting soka, saya nekad mengajak teman saya untuk berpatungan membuat uasaha budidaya kepiting soka. Dengan sedikit penjelasan dan kalkulasi akhirnya teman saya tergiur juga untuk bergabung. Hal ini saya lakukan karena jam terbang saya yang tinggi sehingga tak mungkin bagi saya untuk menjalankan usaha ini sendirian, ha ha ha… memang saya ini termasuk orang yang sok sibuk, maklumlah orang ganteng memang banyak urusan.

Persiapan pun dengan cepat kami buat , dimulai dari pembuatan keramba kepiting berbahan bambu. Pekerjaan ini cukup sulit karena tidak ada contoh khusus , dan di Sampit belum pernah ada yang memproduksi. Akhirnya dengan sedikit penerangan , dan rayuan pulau kelapa , serta harga yang lumayan tinggi , kami berhasil membujuk beberapa orang pengrajin untuk memproduksinya. Setelah memakan waktu 1 bulan akhirnya keramba pun siap dengan kapasitas mampu menampung 500 kg kepiting bakau jenis Scylla serrata.

Setelah survey selama beberapa hari , akhirnya kami pun menemukan lokasi tambak yang tepat untuk memulai budidaya kepiting. Cukup jauh , sekitar 4 jam perjalanan dari kota Sampit dengan mengendarai kendaraan roda empat dan baru mencapai ibukota kabupaten Seruyan. Untuk mencapai lokasi tambak cukup memeras keringat dan sedikit air mata, karena jalan terobosan untuk mencapai areal pertambakan tak jauh beda dengan kubangan kerbau , sehingga beberapa kali mobil kami harus amblas terperosok dalam kubangan lumpur.

Setelah sampai dan menghampar semua keramba pada posisinya , keesokan harinya kami pun mulai berburu bibit kepiting soka yang berukuran 50 gram – 200 gram / ekor. Untuk percobaan pertama 60 kg kepiting berhasil kami dapatkan dari tangan pengepul di kampung nelayan. Karena sudah tak sabar untuk segera menikmati keuntungan menggiurkan dari kepiting soka, maka bibit kepiting langsung kami proses sesuai teori yang saya dapatkan dari hasil browsing di internet. Kaki kepiting kami mutilasi alias kami potong habis dan hanya meninggalkan satu kaki renangnya saja , dengan tujuan untuk membuat kepiting stress. Memang terlihat sedikit kejam tapi apa boleh buat the show must be go on , sesuai dengan petunjuk dari bapak ahli perikanan yang sudah tak diragukan lagi ilmunya. Dan pada proses inilah yang menuntut pengorbanan darah , karena kepiting yang bertemperamen galak tidak diam begitu saja ketika kaki kaki nya kita mutilasi , sesekali mereka membalas mencapit jari tangan kita , Auwww….sepotong capit menjepit erat jari telunjukku , hebat karena yang terlihat hanya capitnya saja , sementara kepitingnya sendiri terlempar entah kemana. Hal ini biasa terjadi karena kepiting memiliki insting untuk melepas kaki dan tangannya apabila sedang dalam keadaan terancam , falsafah kepiting “capit orang sembunyi badan”, memang mirip dengan kebiasaan buruk manusia yaitu “lempar batu sembunyi tangan”.

Selesai memutilasi kepiting langsung kami sebarkan ke dalam keramba , dan kemudian beristirahat sambil memimpikan masa depan bersama kepiting soka. Keesokan pagi kami langsung kembali mengontrol untuk melihat keadaan kepiting yang sudah kami mutilasi tanpa belas kasihan. Dan…, sungguh ajaib ternyata kepiting kami mati semua !!! , lho kok bisa ?? , kan udah riset ??. Selidik punya selidik ternyata kami terlalu bernafsu untuk cepat kaya. Beberapa prosedur penting yang terlihat sepele telah kami abaikan . Ternyata sebelum di mutilasi kepiting harus di adaptasi dulu , biar stress nya gak kelewatan , dan tidak semua kualitas air cocok untuk kepiting. Kesimpulannya kondisi air tambak tidak cocok. Terpaksa kami harus mencari lagi lokasi yang memiliki kualitas air yang sesuai dengan yang di harapkan. Akhirnya kami pun harus menggantungkan mimpi kami sementara.

Sebulan kemudian , jalan keluar telah didapatkan , tanpa buang waktu kami pun kembali memproses bibit kepiting , hanya saja sedikit mengurangi nafsu . Belajar dari pengalaman masa lalu , maka kami pun hanya mencoba sebanyak 10 kg kepiting , biar kalau mati lagi namun tidak rugi terlalu banyak. Al hasil , sehari , dua hari , tiga hari , sampai dengan 20 hari. Sekarang kami baru mulai bisa tersenyum , tingkat kematian hanya 10% , dan kepiting mulai terlihat moulting / berganti kulit satu persatu .

Dengan persiapan yang matang dan perhitungan yang cermat , sekarang semua keramba sudah hampir terisi penuh . Panen kecil kecilan pun sudah dimulai . dan sekarang sudah dalam tahap penambahan jumlah keramba untuk mengejar omzet 1 ton per bulan .

Sambil menyelam minum air , selain daripada produksi kepiting soka kami juga memulai usaha penggemukan kepiting . Kepiting kosong yang dikenal dengan sebutan kepiting BS dipelihara dalam keramba yang proporsional , diberi makan yang cukup , dan dalam tempo 20 hari kepiting pun sudah berpindah grade dari BS yang berharga murah menjadi SUPER yang berharga wah .

Harga pasaran kepiting soka ditingkat supplier Jakarta untuk saat ini berkisar antara Rp 50.000 – Rp 65.000 /kg . Dengan total biaya bibit , perawatan , cargo ke Jakarta mencapai Rp 35.000 /kg , maka akan didapat keuntungan bersih rata rata Rp 20.000/kg . Kalau di kali 1ton perbulan maka akan menjadi Rp 20 juta/bulan. Bayangkan kalau dalam satu bulan kita bisa memproduksi 10 ton kepiting soka , maka hasilnya fantastic Rp 200 juta/bulan . Hah..!!!??? , mimpi apa bukan ya..?? , maaf selain ganteng saya juga pemimpi.

Tapi tenang dulu , jangan terlalu bernafsu karena ini hanyalah perhitungan di atas kertas . Apa pun bisa terjadi , mulai dari kaya mendadak dan akhirnya kena serangan jantung lalu mati mendadak , dan tak tertutup kemungkinan juga menjadi miskin mendadak karena proyek yang gagal, yang akhirnya mati bunuh diri karena kebanyakan hutang. Pada akhirnya semua berujung pada kematian .

Yang penting kita berusaha semaksimal mungkin dengan jalan yang halal , dan jangan lupa berdoa pada Tuhan . Karena rezeki manusia ada di tangan Tuhan .

Kalau anda memerlukan kepiting soka , harap segera ke swalayan atau ke pasar ikan, karena tujuan saya disini hanya menulis untuk berbagi pengalaman dan bukan untuk berjualan .


sumber : gemawirausaha.blogspot.com
Share: