Kemitraan Usaha mampu mendorong keberlanjutan usaha Budidaya Kerapu di NTB

    Menurut Manhan Rasuli salah satu pembudidaya kerapu di Teluk Batu Nampar Lombok Timur, budidaya ikan kerapu membutuhkan modal yang besar, sehingga mereka menginisiasi membudidayakan kerapu dengan pola berkelompok, sehingga akan mudah untuk membangun kemitraan dengan pihak lain atau pemilik modal. “ Bagi kami budidaya ikan kerapu merupakan investasi atau tabungan penghasilan, karena masa pemeliharaan yang cukup lama, maka kami upayakan untuk melakukan usaha ini secara berkelompok”, terang Manhan. Diakuinya, ikan kerapu bebek masih menjadi primadona dibudidayakan di teluk Batu Nampar, karena selain harganya sangat tinggi, pasarnyapun sudah pasti.

    Lain halnya dengan upaya yang dilakukan UD. Bali Minatama salah satu perusahaan budidaya kerapu di Sumbawa, dimana dalam upaya mempercepat pengembangan usaha budidaya kerapu di masyarakat, pihak perusahaan menjalin kerjasama kemitraan dengan menerapkan pola segmentasi usaha. Pola segementasi usaha, menurut Carollus Wibowo pemilik UD. Bali Minatama  adalah dalam rangka efesiensi dan memberikan kesempatan kpd masyarakat binaan mendapatkan nilai tambah pada setiap tingkatan/segmen ukuran ikan kerapu yang dibudidayakan. “Kita tahu usaha budidaya ikan kerapu membutuhkan investasi besar, sehingga masyarakat kecil tidak akan mampu berusaha, dengan kemitraan semacam ini, maka masyarakat akan mendapatkan nilai tambah pada masing-masing tahapan pembudidaya dengan tanpa mengeluarkan modal tinggi.

    Pola ini juga telah secara nyata mampu mempercepat kapasitas usaha budidaya”, jelas Carollus saat memberikan paparan pada ajang Forum Budidaya Laut di Batam akhir tahun lalu. Ditambahkan Carollus pembudidaya mitra akan mendapatkan penghasilan rutin setiap bulan, dimana nilai income tergantung prestasi. Ikan yang dipelihara akan dihargai Rp. 2 ribu per cm. Sampai Tahun 2013 jumlah unit KJA yang diusahakan melalui pola kemitraan dengan masyarakat telah mencapai lebih dari 649 unit, dari sebelumnya yang hanya 45 unit yaitu masing-masing tersebar di Sumberkima, Teluk Ekas Lombok Timur dan Sumbawa.

    Pola kemitraan pada usaha budidaya kerapu menjadi suatu kebutuhan dalam rangka mempercepat pengembangan kawasan budidaya laut yang secara langsung mendorong peran bagi pemberdayaan masyarakat pesisir. Pola-pola seperti ini perlu dijadikan model pada sentral-sentral produksi maupun pada kawasan pengembangan baru.

    sumber : dpjb.kkp.go.id
Share: