Kadang panen gagal bila cuaca buruk (2)

Desa Randusanga, Kelurahan Brebes, Jawa Tengah, menjadi salah satu sentra rumput laut terbesar di Kabupaten Brebes. Lantaran sentra ini sudah cukup terkenal, seluruh hasil panen petani di sini selalu habis diborong tengkulak.
Djarot, salah satu petani rumput laut di sentra ini, mengatakan, panen rumput laut dari Randusanga disetor ke salah satu perusahaan agar-agar nasional. "Sekarang kita tidak kesulitan untuk menjual hasil panen. Bahkan kita saat ini tidak bisa memenuhi seluruh permintaan tengkulak," jelasnya.
Sehingga, terkadang para tengkulak yang bukan merupakan pelanggan tetap, juga pembeli eceran, akan sulit mendapatkan rumput laut di sentra ini. Sebab,  seluruh panenan sudah habis terjual milik tengkulak.
Kondisi saat ini sudah jauh lebih baik dibanding dengan  awal percobaan para warga membudidayakan tanaman rumput laut. Pada waktu itu para petani sulit menjual hasil panen mereka. Alhasil, banyak rumput laut menumpuk sampai rusak, lantaran tidak laku terjual.
Untunglah, pada tahun-tahun berikutnya hasil panen semakin membaik. Pemda setempat pun membagikan bibit kepada petani. Maklum, Desa Randusanga memang dibuat menjadi sentra pembudidayaan rumput laut oleh pemerintah setempat.
Pada panen kedua, seluruh rumput laut berhasil terjual dangan harga cukup tinggi, yakni sekitar Rp 10.000 per kilogram (kg). Djarot menceritakan, setelah itu panen berikutnya harga jual anjlok sehingga petani hanya mengantongi keuntungan tipis. "Anjoknya harga dipengaruhi oleh banyaknya pasokan rumput laut dari luar Kabupaten Brebes yang  waktu panen rayanya bersamaan," kata dia.
Djarot bilang, membudidayakan rumput laut memang terbilang mudah, karena benih tanaman hanya perlu disebar dalam tambak atau laut. Agar tumbuh maksimal, air dalam tambak harus mengalir dan tetap bersih. Sayangnya, tanaman ini cukup sensitif saat musim hujan, karena tumbuhan akan mudah berjamur.
Meski proses panen terbilang mudah, bukan berarti para petani tidak pernah gagal panen. Seperti awal tahun ini, sebagian petani di Desa Randusanga gagal panen akibat jeleknya cuaca dan tingginya ombak laut. Djarot mengatakan, jika tambak terendam air laut maka rumput laut akan rusak.
Ketika banjir rob datang seperti yang terjadi beberapa bulan lalu, petani rumput laut tentu menanggung kerugian. "Saya mengalami kerugian sampai Rp 32 juta," kata dia.
Sementara Slamet Riyadi, petani rumput laut lainnya, mengatakan, saat gelombang besar datang seperti yang terjadi beberapa bulan lalu, dia tidak sampai mengalami gagal panen. Sebab, lokasi tambak milik laki-laki berkulit gelap ini cukup jauh dari laut. Total lahan rumput laut milik Slamet mencapai 35 hektare (ha). Sebagian lahannya milik pribadi dan lainnya adalah lahan sewa.
Untuk menggarap seluruh lahan rumput lautnya, Slamet dibantu oleh 100 orang. Sedangkan untuk proses pengemasan dia dibantu sekitar 20 orang karyawan. Selain menjadi petani, Slamet juga menjadi salah satu pengepul.           n
(Bersambung)
sumber : kontan.co.id
Share: