Hubungan harmonis dalam paguyuban (3)

Sentra pemotongan ayam di Jalan Makam, RT 11/RW 01, Kecamatan Cipulir, Kebayoran Lama merupakan salah satu pusat pemotongan ayam yang cukup besar di Jakarta Selatan.
Setiap hari, tempat pemotongan ayam ini memasok sekitar 20.000  ekor hingga 30.000 ekor ayam untuk kebutuhan sebagian pasar di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat.
Meski di sentra ini terdapat banyak pengepul dan pemotong ayam, persaingan antar mereka berlangsung sehat. Sentra pemotongan ayam ini diramaikan 25 pengepul dan 370 kepala keluarga yang bekerja sebagai pemotong ayam.

Nah, mayoritas dari mereka ini berasal dari satu daerah, yakni Lamongan, Jawa Timur. Bahkan, banyak dari mereka juga masih memiliki hubungan kekerabatan. Tak heran, bila hubungan di antara mereka tetap terjalin dengan baik.
Mat Lai, Kepala Paguyuban Pengusaha Pemotongan Ayam Anak Lamongan (Arela), mengatakan, hubungan di antara sesama pengepul dan pemotong ayam tidak ada masalah. Bahkan, di antara mereka saling tolong menolong.
Bila ada salah satu pengepul kekurangan pasokan ayam, mereka tidak segan-segan meminta pasokan ayam dari pengepul lainnya. "Prinsipnya kami bersaing dengan sehat," ujarnya.
Namun demikian, persaingan itu tetap ada. Mat Lai mengakui, sering terjadi persaingan harga antar sesama pengepul. Misalnya, harga ayam Rp 18.000 per ekor, ada yang berani menawarkan lebih murah dengan selisih harga Rp 1.000 ekor  hingga Rp 2.000 per ekor. Ia pun melakukan hal yang sama, namun tetap menjaga harga agar tidak rugi.
"Jika harga sudah tak bisa turun, mendingan kurangi persediaan stok ayam," ujarnya. Sementara persaingan dalam hal layanan tidak ada yang khusus. Yang jelas, kata Mat Lai, pengepul maupun pemotong yang menetap di area pemotongan ayam ini cukup tertib.
Misalnya tidak ada yang menggunakan jasa calo. Selain itu, juga tidak ada pungli atau rentenir. Dengan begitu, pembeli nyaman melakukan aktivitas jual beli. Pembeli umumnya merupakan pedagang ayam di Pasar Cipulir, Kebayoran, Palmerah, dan Tanah Abang. "Ada juga yang dari Bintaro datang kesini," tambahnya.
Untuk menjaga kekompakan di antara mereka, sebagian besar orang Lamongan ini sering berkumpul bersama di dalam komunitas Arela. "Kami sering mengadakan pertemuan Arela setiap tiga bulan sekali, agar tak ketinggalan informasi terhangat," ucap Supandri, salah satu pemotong ayam.
Pertemuan ini bisa meliputi macam-macam isu, seperti membahas masalah harga ayam, isu lingkungan, dan isu-isu lain yang berkaitan dengan ayam potong. Selain itu, sentra pemotongan Arela ini memiliki kegiatan yang unik. Yakni, berbagi ayam saat hari raya Idul Fitri. "Kami membagikan ayam untuk warga dan aparat di lingkungan," tuturnya.
Kegiatan ini rutin dilaksanakan setahun sekali. Adapun, satu kepala keluarga biasanya mendapat dua ekor ayam, sumbangan dari pengusaha paguyuban ayam potong Arela.  
(Selesai)
sumber : kontan.co.id
Share: