Harum nian laba budidaya daun kemangi (1)

Daun Kemangi kerap kita jumpai sehari-hari. Selain daunnya menjadi lalapan, biji kemangi pun bisa sebagai bahan baku makanan. Bahkan, bisa pula diolah jadi minyak untuk kosmetik. Makanya, permintaan kemangi cukup tinggi. Jika serius digarap, budidaya kemangi bisa menghasilkan omzet puluhan juta.
Siapa yang tidak kenal Kemangi, salah satu jenis tanaman yang sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari kita. Tanaman yang memiliki nama latin ocimum sanctum ini biasanya disajikan sebagai lalapan atau bumbu penyedap masakan. Daun yang beraroma khas ini dipercaya berkhasiat menangkal radikal bebas, juga penghilang bau badan dan mulut.
Tak heran, kemangi banyak dibudidayakan di kalangan masyarakat. Meski harganya terbilang murah, namun tanaman ini mudah dibudidayakan. Maka, jika digeluti secara serius, budidaya kemangi, mampu mendatangkan omzet menggiurkan.
Salah satu pembudidaya tanaman ini adalah Alex Eko Prihatmoko di Sidoarjo. Pemilik UD Usaha Tani  ini sudah menggeluti budidaya kemangi  belasan tahun di lahan milik keluarga.
Ia tertarik tanaman ini  karena perawatannya relatif mudah. Selain itu, permintaan tanaman ini cukup tinggi. "Selain daunnya untuk lalap, biji kemangi biasa digunakan sebagai selasih untuk es dawet, es krim, ataupun bubur," papar Alex.
Ia juga menjual biji kemangi dalam bentuk benih. Nah, Alex memilih fokus berbisnis benih kemangi. Dalam sebulan, ia bisa melepas 280 kg benih ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, Sumatera hingga Kalimantan.Ia mengaku, bisa mengantongi omzet sekitar Rp 30 juta dalam sebulan.
Harga jual benih saat ini sekitar Rp 100.000 per kilogram (kg). Kata Alex, harga benih bervariasi tergantung stok barang dan cuaca. "Jika cuaca tidak menentu, pasokan benih turun, harganya bisa mencapai Rp 250.000 per kilogram," jelasnya.
Selain perawatan tidak rumit, masa panen kemangi termasuk singkat. Makanya, Alex bilang, perputaran uang dalam budidaya kemangi bisa cepat menghasilkan. Jika ingin memanen kemangi sebagai lalapan atau diambil daunnya, masa panen hanya 25 hari. Sementara, jika ingin mengambil benih atau bijinya, masa panen sekitar tiga bulan.
Laras Soetoro di Yogyakarta juga seorang pebudidaya kemangi. Bahkan, usahanya meliputi hulu hingga hilir. Artinya, di hulu ia menanam kemangi. Nah kemudian ia juga mengolah kemangi  hasil tanamnya menjadi produk berupa minyak kemangi. Jelas nilai jualnya pun menjadi lebih tinggi ketimbang sekadar menjual daun.
Laras mematok harga minyak kemangi Rp 330.000 per 10 milli liter (ml). Ia memasok minyak tersebut ke industri farmasi, spa, dan kosmetik di Jakarta, Bogor dan Bali.
"Kemangi memiliki khasiat anti penuaan dan reproduksi, makanya jadi salah satu bahan untuk membuat obat dan kosmetik," terangnya. 
Ia sudah membudidayakan kemangi sejak 1999 di lahan seluas 1 hektare (ha). Dalam sebulan, Laras bisa meraup pendapatan Rp 36 juta. 

(Bersambung)

sumber : kontan.co.id
Share: