Harga Pakan Ikan Mahal, UPR Sumarah Bikin Pelet Sendiri

Unit Perbenihan Rakyat (UPR) “Sumarah” Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, DIY kini telah berhasil mengembangkan pembuatan pakan ikan (pelet) alternif. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap mahalnya pakan ikan pabrikan yang kerap merugikan para pembudidaya ikan. Demikian ungkap Ketua UPR Sumarah, Widodo kepada wartawan.
Dengan hanya berbekal bantuan dari Pemerintah Pusat Bulan November 2011 berupa sebuah mesin pembuat pelet senilai Rp 50 juta berikut bahan baku dan pelatihan selama dua bulan, saat ini tengah dikembangkan pakan alternatif guna mencukupi suplai kebutuhan pakan ikan. Awalnya area pemasaran hanya dikhususkan untuk Kecamatan Ponjong saja, namun dalam perkembangannya sampai saat ini telah melebar hingga ke luar daerah.
Teknik pembuatan pakan ikan alternatif khusus ikan lele, nila, dan udang lobster air tawar itu, lanjut dia, dibuat dari bahan baku lokal diantaranya tepung ikan, jingking, tepung kedelai, dedak padi, tepung tapioka, ganggang, tepung daging ayam (MBM), aneka vitamin dan mineral serta berbagai limbah sayuran (kol, sawi, bungkil, dll).
“Untuk sementara ini kami baru bisa memproduksi pelet sekitar 5 ton perhari. Harga pelet untuk ikan nila dijual Rp 5.000/kg, lele Rp 6.000/kg, serta udang lobster Rp 7.000/kg. Bila dibandingkan dengan harga pakan ikan pabrikan saat ini yang mencapai Rp 240 ribu/zak, pakan alternatif ini jauh lebih murah. Dalam sekali masa panen ikan hanya dibutuhkan biaya pakan sekitar Rp 150.000 – Rp 170.000 saja. Padahal untuk sekali panen ikan membutuhkan sekitar 2,5 – 3 zak pakan. Bayangkan saja berapa biaya untuk pakan yang bisa dihemat,” jelas Widodo.
Selain mengembangkan pakan alternatif, UPR yang berdiri sejak 1995 itu sejak beberapa tahun lalu juga telah memproduksi benih ikan lele. Dalam sebulan, jumlah produksi benih ikan dapat mencapai 140.000 ekor dengan harga jual Rp 175/ekornya. Dengan 300 ekor indukan Sangkuriang yang didatangkan dari Sukabumi, Jawa Barat dan didukung dengan fasilitas 100 buah kolam, pihaknya mengaku berhasil menyuplai benih ke berbagai daerah pemasaran seperti, Jawa Tengah, Jawa Barat maupun Gunungkidul dengan omset kotor sekitar Rp 24 juta/bulan.
sumber : budidaya-ikan.com
Share: