Harga Mahal, Budidaya Bawal Bintang Kian Menantang

Bawal Bintang (Trachinotus blochii) merupakan salah satu jenis ikan bawal air laut yang saat ini tengah populer dan sangat diminati. Walhasil budidaya Ikan Bawal Bintang pun menantang.
Banyak restoran-restoran di kota besar menyajikan menu olahan bawal bintang. Di restoran makanan Jepang, salah satu menu favorit olahan bawal bintang adalah sushi. Lantaran banyak peminatnya, budidaya bawal bintang menjanjikan peluang yang cukup menguntungkan.
Bawal bintang memiliki bentuk tubuh gepeng, agak membulat dengan ekor yang bercagak. Warnanya perak keabu-abuan sehingga kalau kena sinar matahari, ikan ini akan tampak berkilau. Sementara, sisiknya halus dan bertipe sisir atau ctenoid.
Budidaya bawal bintang merupakan hal yang baru di Indonesia. Upaya budidaya ikan asli Taiwan ini sudah dilakukan sejak 2002. Saat itu, Balai Budidaya Laut (BBL) Batam membeli benih bawal bintang buat diteliti dan dibudidayakan.
Setelah melalui penelitian yang cukup panjang, baru pada 2005, pembenihan ikan ini dilakukan di dalam negeri. Saat ini, sudah mulai banyak nelayan yang membudidayakan ikan dengan merek dagang Silver Pompano ini.
Salah satunya adalah Machsin (58) yang tinggal di Desa Pengawisan, Sekotong Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Machsin mulai membudidayakan bawal bintang sejak April lalu.
Awalnya, Machsin membeli 4.000 ekor benih bawal bintang dari BBL. Harga setiap ekor benih Rp 3.500 dengan ukuran 8 centimeter (cm) – 10 cm. Ia membudidayakan bawal bintang pada keramba yang terletak di laut, sekitar 800 meter (m) dari pinggir pantai Sekotong.
Ukuran keramba 16 meter persegi dengan mata jaring berukuran lima meter. Ikan ini baru bisa dipanen setelah enam bulan hingga tujuh bulan, dengan ukurannya mencapai 4 ons. “Kurang dari itu, tak ada yang mau beli,” kata Machsin.
Sekali panen, Machsin bisa meraup omzet Rp 45 juta. Ia menjual ikan itu pada pengepul di Lombok Barat. Oleh pengepul, ikan dijual ke restoran-restoran di Bali.
Pakan bawal bintang berupa pelet yang bisa dibeli seharga Rp 1.400 per kg. Selama empat bulan pertama budidaya, Machsin bisa menghabiskan 1 kuintal pakan. Namun, ketika usianya sudah empat bulan, 1 kuintal pakan ikan itu bisa habis dalam sehari.
Pembudidaya lainnya adalah Ibnu Hajar di Jakarta. Ia telah membudidayakan bawal bintang sejak 2008 di bawah bendera usaha CV Kaputi Lestari. Lokasi budidaya ada di Kepulauan Seribu, Jakarta.
Menurut Ibnu, budidaya ikan ini menguntungkan karena permintaannya tinggi. “Nilai jualnya juga lebih tinggi dari bawal lain,” kata Ibnu yang mengantongi omzet Rp 300 juta per bulan.
Budidaya Bawal Bintang Di Bak
Meski tergolong spesies baru di Indonesia, permintaan ikan bawal bintang di pasar domestik cukup tinggi. Ikan ini banyak dicari buat dikonsumsi karena mengandung omega 3 yang baik buat pertumbuhan tubuh.

Lantaran permintaannnya tinggi, banyak orang kini tertarik membudidayakan jenis ikan asal Taiwan ini. Apalagi, pasokan benih bawal bintang kini sudah bisa didapatkan di dalam negeri.
Beberapa balai budidaya laut (BBL), seperti BBL Lombok dan BBL Batam yang sudah berhasil melakukan pembenihan sendiri.
Sebelumnya, benih bawal bintang memang harus diimpor dari Taiwan.Salah satu pebudidaya bawal bintang adalah Machsin (58 tahun), warga Desa Pengawisan, Sekotong Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia mulai membudidayakan bawal bintang sejak April lalu.
Setelah sukses panen bawal bintang pada Oktober lalu, Machsin kembali melakukan budidaya tahap kedua. Kali ini, dia membudidayakan 2.000 ekor benih bawal bintang.
Machsin bilang, benih bawal bintang tidak bisa langsung dipelihara di keramba. Benih harus dipelihara di bak dulu hingga berusia dua bulan. Sebanyak 2.000 ekor benih bisa ditampung di bak berukuran 48 meter persegi.
Saat usianya dua bulan, bawal bintang sudah siap mencari makan di laut lepas dan tahan dari ombak laut. Namun, pemindahan benih ke laut lepas harus memperhatikan gelombang laut.
Apalagi di akhir tahun, biasanya tinggi gelombang laut meningkat. Hal ini tentu menjadi kendala bagi pembudidaya bawal bintang. Sebab, ikan rentan mati kalau diempas ombak. “Untuk itu, harus dipindah ke bak dulu,” ujarnya.
Bila cuaca dan ombak stabil, survival rate atau tingkat bertahan hidup ikan ini cukup tinggi, sekitar 70% – 80%. Terbukti, saat budidaya pertama, dari 4.000 benih yang disebar, Machsin bisa memanen 3.000 ekor bawal bintang. “Kebanyakan mati karena ombak,” katanya.
Selain ombak laut, ikan juga juga harus dijauhkan dari kemungkinan terkena serangan virus atau parasit. Untuk itu, jaring keramba harus diganti setiap bulan agar sirkulasi air tetap lancar.
Ibnu Hajar, pemilik CV Kaputi Lestari yang bergerak di bidang usaha budidaya bawal bintang di Kepulauan Seribu, Jakarta, memilih budidaya di bak di darat.
Dengan dipelihara di bak, ikan bisa dipanen dalam waktu lima hingga enam bulan. “Saat itu, berat satu ikan bisa 500 gram,”kata Ibnu.
Menurut Ibnu, ada dua hal yang menjadi kendala bagi para pebudidaya ikan bawal bintang di bak. Pertama, masalah pakan. Ikan bawal bintang termasuk jenis ikan yang butuh banyak makanan untuk berkembang.
Dalam sehari, setiap 500 ekor hingga 1.000 ekor ikan bisa menghabiskan 50 kilogram pakan. Bila tidak cermat, biaya pakan bisa tidak sebanding dengan nilai jual.”Cara menyiasatinya dengan membuat pakan sendiri,” tutur Ibnu. Ia membuat pakan dari campuran ikan kecil dengan tepung kedelai. Kedua, ikan juga rentan terkena virus. Makanya, kebersihan air harus terus dijaga.
sumber : budidaya-ikan.com
Share: