Genjot budidaya artemi untuk kurangi impor

Kurangi impor artemia, Pemerintah mulai kembangkan budidaya yang menjadi pakan ikan dan udang ini di sejumlah daerah seperti Jepara, Rembang, dan Madura. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengatakan usaha budidaya tersebut dapat memangkas nilai impor yang tinggi tiap tahun.
Tercatat, rata-rata dalam setahun Indonesia mengimpor Artemia sekitar 40 ton atau senilai dengan Rp 56 miliar. Selama ini, Artemia di Impor dari Amerika Serikat, China, dan Vietnam. "Padahal kita mempunyai lahan dan teknologinya," katanya melalui siaran yang diterima KONTAN.
Asal tahu saja, Artemia ini cocok dikembangkan di wilayah penghasil garam. Diketahui, area tambak garam nasional tahun 2015 seluas 25.830 hektare (ha). Berdasarkan analisa usaha budidaya artemia yang dilakukan di areal tambak garam, usaha budidaya ini cukup menguntungkan.
Dari 1 hektar lahan budidaya artemia, dapat menghasilkan 200 kg-300 kg cyst artemia per siklus (tiga sampai empat bulan di musim kemarau). Dengan harga artemia cyst per kilogram basah adalah sekitar Rp 300.000, maka akan diperoleh hasil Rp 60 juta – 90 juta per siklus. Kemudian, biaya produksi budidaya artemia per siklus per hektar berkisar Rp 15 juta-Rp 20 juta. Apabila dihitung, maka keuntungan yang akan diperoleh adalah Rp 40 juta – 60 juta per siklus (tiga sampai empat bulan).
Sampai saat ini, sudah ada tiga wilayah yang digunakan untuk membudidaya artemia yaitu Rembang seluas 10 ha, Madura seluas 0,5 ha bekerjasama dengan PT Garam. Dan yang paling baru adalah wilayah Jepara seluas 5 ha.
Nantinya, hasil panen Artemia ini bakal diserap oleh tiga perusahaan yaitu Perum Perikanan Indonesia, PT Garam, dan PT Arafura Marikultur.
Thomas Darmawan Ketua Asosiasi Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) mendukung langkah Pemerintah untuk mulai membudayakan Artemia. "Ini sumber makanan untuk bibit udang sehingga, penting untuk dikembangkan sendiri daripada terus impor," katanya.
sumber : kontan.co.id
Share: