Geliat Program Udang Galah & Padi di Sukabumi

Program Udang Galah dan Padi atau disingkat Ugadi merupakan inovasi di bidang agribisinis. Kolaborasi antara bidang pertanian dengan perikanan tawar. Sesuai namanya, Ugadi ini menernakan udang di areal sawah.
Hasilnya, petani dapat melakukan dua kali panen. Pertama dari udang dan yang selanjutnya dari padi. Pada tahun ini program dari kemerintrian perikanan ini hanya dilakukan di empat titik atau demplot. Dua di Jatim, satu di Jateng dan Jabar dilakukan di Kabupaten Sukabumi. Seperti apa geliatnya ?
Butuh Seribu meter lahan untuk menjalankan program Ugadi ini. Namun hal itu tidak menjadi masalah untuk para gapoktan Bina Bhakti, Kecamatan Cidahu. Pasalnya ketika program ini turun, mereka sudah mempersiapkan fasilitas utama yakni lahan. Saat ini, Ugadi berjalan di lahan enam ribu meter. Persisnya, di sawah yang terletak di Desa Pasirdoton.
Benih udang sudah berada di sawah tersebut sebanyak 20.000 ekor. Usia benih saat ini memang tidak rata sebab, petani sudah dua kali menyebar benih, Sementara untuk usia padi sekitar 4 mingguan. Karena baru 6 ribu meter, berarti petani ini mesti menambah lahan sesuai dengan target satu hektar. Tapi itu bukan soal sebab sudah ada lahan yang masih berada di Kecamatan Cidahu seluas 2.700 meter, lalu sisanya 1.300 meter yang rencananya di Kecamatan Cisaat.
Menurut Ketua Poktan Bina Bhakti, Irwan Atma Disatra, Ugadi cenderung tidak merusak padi. Yang ada, justru menyuburkan. Sebab kotoran sisa dari udang ini menjadi pupuk bagi padi. Ditambah bibit padi yang unggul, hal itu nampak dari banyaknya rumpun atau batang padi yang jumlahnya 40 batang, sedangkan padi biasa hanya 17 batang saja.
“Padi menjadi subur sebab kehidupan udang di air menimbulkan banyak kotoran yang dapat diserap oleh padi. Nampak secara kasat mata, daun padi yang berwarna hijau mencolok,” ungkapnya.
Sedangkan, untuk udang yang ditanam pertumbuhanya cukup cepat, dalam waktu empat bulan saja udang dapat dipanen. Sebab dengan metode udang ditanam bersama padi maka ketika proses molting udang tidak mesti mencari selter atau tempat berlindung, tapi bisa memanfaatkan pohon padi.
“Ketika kita menamam udang di kolam maka perawatannya cukup sulit, ketika proses Molting atau ganti kulit, udang mesti mempunyai tempat atau selter. Hal ini dilakukan udang untuk melindungi diri agar tidak dimangsa udang lainya. Sebab ketika molting, udang berbau amis. Selter di kolam biasanya pelapan kelapa. Tapi kalau di sawah, selter yang digunakan di antara pohon padi,” jelasnya.
Menurutnya, Ugadi disambut baik para petani bahkan ketika ada syarat mesti ada satu hektare lahan, masyarakat yang antusias menyedikana lebih dari satu hektare.
“Petani memang mengharapkan sebuah bentuk inovasi, salah satunya Ugadi. Dengan demikian bidang pertanian akan maju terus,” tukasnya.
Saat panen kelak, terlebih dahulu udang yang akan diangkat selanjutnya padi. Dengan adanya program ini petani berharap keuntungan yang cukup besar dari nilai inovasi di bidang agribisnis tersebut.
sumber : budidaya-ikan.com
Share: