Buntut Konflik, Budidaya Udang di CPB Lumpuh

Akibat konflik dan perlawanan petambak plasma, budidaya udang di PT Central Pertiwi Bahari (CPB) Lampung kini berhenti total.
Kepala Komunikasi PT CPB Tarpin A. Nasri dihubungi, Kamis (14/3/2013) mengatakan, beberapa bulan terakhir situasi di tambak udang eks Bratasena yang berada di Tulang Bawang ini kian tidak kondusif. Puncaknya adalah bentrokan berdarah.
"Perbuatan mereka (kelompok Forum Silaturahmi Petambak Bratasena) yang terus melakukan perlawanan dan intimidasi membuat situasi di tambak menjadi tidak aman dan tidak ada kenyamanan usaha," ujar dia.
Budidaya di salah satu tambak udang terbesar di Indonesia ini berhenti sejak Desember 2012 lalu. Dampaknya, perusahaan menghentikan biaya pinjaman bulanan yang selama ini diandalkan para petani plasma untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Padahal, ucapnya, perusahaan tengah memperkenalkan pola budidaya baru yang dinamakan budidaya parameter baru ke petambak.
"Hasilnya sangat baik, jauh di atas target. Namun, di langkah awal ini memang belum banyak petambak yang diikutsertakan karena masih uji coba," tuturnya.
Budidaya pola baru ini juga dihentikan sementara menyusul kisruh konflik antar-petambak. Sementara itu, kegiatan pengolahan udang di kawasan CPB tetap beroperasi meskipun tidak sedikit karyawan yang terluka, bahkan ada yang tewas menyusul bentrokan Selasa. "Fasilitas vital seperti cold storage (pabrik pengolahan udang) dijaga aparat polisi, sehingga tetap berjalan," ujarnya.
Pabrik pengolahan udang ini tetap beroperasi karena mendapat pasokan udang dari tambak Wachyuni Mandira (satu grup dengan CPB) yang berada di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Sementara, pasokan udang dari CPB maupun PT Aruna Wijaya Sakti saat ini kosong menyusul konflik di dua tambak ini.
sumber : kompas.com
Share: