Berdayakan masyarakat dengan limbah kayu dan ban

Tak hanya limbah kemasan minuman yang bisa dijadikan barang kerajinan, sisa limbah pertanian juga bisa diolah menjadi barang kerajinan yang menarik dan bernilai ekonomi tinggi. Adalah Muhammad Nur Khusaini asal Desa Kandri, Gunung Pati, Jawa Tengah ini, yang menyulap limbah pertanian menjadi miniatur petani.
Pembuatan suvenir petani sebenarnya berawal dari kegelisahan Sadam, panggilan akrab Muhammad Nur Khusaini. Pasalnya,  Desa Kandri sudah lama menjadi salah satu destinasi wisata alam yang cukup kesohor. Selain wisata alam, desa ini juga menawarkan wisata pertanian.
Nah, di sinilah Sadam berpikir untuk membuat suvenir khas Desa Kandri. "Kalau kuliner kan sudah banyak, saya ingin mencari bentuk oleh-oleh yang lain," ungkap Sadam. Akhirnya, diputuskan utuk memilih miniatur patung petani karena mayoritas warga desanya berprofesi sebagai petani.
Ia menjadikan limbah pertanian yang ada di Desa Kandri sebagai bahan membuat suvenir. Kebetulan limbah pertanian di desanya sangat banyak, seperti limbah kayu, rerumputan, dan biji-bijian. Memang, Sadam juga memanfaatkan kain perca  untuk suvenirnya ini.  Suvenir yang dibuatnya seperti patung petani wanita yang tengah membawa kayu, ia juga membuat patung petani yang sedang memanen atau menumbuk padi. Ada pula patung sekelompok warga yang sedang bekerja bakti.
Hasil kerajinan Sadam ini dijual mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 1 juta. "Hasil kerajinan ini ada yang dijual dalam bentuk satuan dan paket," kata Sadam.  Lewat brand Kandri Etnik yang dirintisnya sejak 2013, Sadam sukses meraup omzet hingga jutaan rupiah. Dalam menekuni usaha ini, ia juga melibatkan pemuda setempat.
Kalau soal pelibatan pemuda atau orang sekitarnya dalam produksi daur ulang, Sindu Prasetya juga melakukan hal yang sama. Sindu melibatkan 14 orang untuk memproduksi tas, dompet, gantungan kunci, gelang, dan kalung dari ban bekas.
Kepedulian yang  tinggi pada lingkungan hidup membuat Sindu Prasetyo mampu melihat peluang usaha yang bisa menghasilkan cuan. Pria berusia 37 tahun ini mengubah ban bekas bagian dalam dari truk menjadi kerajinan tangan yang bernilai jual tinggi lewat usaha up-cycle.
Daur ulang kegiatan yang keren
Awal cerita usaha ini berdiri lantaran Sindu sejak tahun 2006 aktif bergabung dalam sebuah LSM lingkungan hidup. Selama aktif di sana, Sindu banyak belajar dan mengembangkan ide untuk memanfaatkan barang daur ulang. Dari pengalaman tersebut, dia lantas mendirikan Komunitas Sapu yang di Salatiga, Jawa Tengah sejak 2010 untuk memanfaatkan limbah ban bekas truk untuk dijadikan kerajinan.
Di bawah naungan CV Sapu, saat ini Sindu telah memiliki distributor di Perancis dan Jerman untuk kerajinan ban bekasnya. Selain itu, Sindu bekerja sama dengan pengusaha di Australia dan Inggris untuk membuka toko ritel di negara-negara tersebut. Adapun Sindu sendiri memiliki toko ritel sendiri di Bali dan Yogyakarta.
Setelah dua tahun usahanya berjalan, pasokan bahan baku didapat dari agen pengepul ban di daerah Semarang. Awalnya, Sindu menitipkan produk buatannya ke toko di Yogyakarta. Respons pasar yang positif membuat usahanya kian berkembang. Bermula dari memiliki dua pegawai, kini Sindu telah memiliki 14 karyawan. Kini kapasitas produksi mencapai 1.000 barang per bulan. Sebagian besar merupakan pesanan dari beberapa negara. Sebagian kecil dijual ritel.
Harga jual produknya mulai dari Rp 20.000 hingga Rp 500.000 per item. Sindu mengaku bisa meraup omzet Rp 100 juta per bulan. Wow.
Keren benar kegiatan positif  Sadam dan Sindu. Sudah menyelamatkan lingkungan dengan mendaur ulang barang bekas, orang-orang sekitarnya juga bisa menarik manfaat dari aktivitas itu. Semoga Sadam dan Sindu memberi inspirasi bagi kita semua. Salam.
sumber : kontan.co.id
Share: