Untung berlipat melalui sistem budidaya ugadi

Industrialisasi kelautan dan perikanan berbasis blue economy (ekonomi biru) yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), telah terbukti memberikan dampak yang positif. Di bidang perikanan budidaya, industrialiasi berbasis blue economy diterapkan dalam suatu bisnis model dengan menerapkan beberapa prinsip. 
Model Bisnis Akuakultur yang Berbasis Blue Economy menerapkan prinsip zero waste atau tanpa limbah, social inclusiveness atau peningkatan nilai tambah produk dan peningkatan lapangan kerja, multi product yaitu menghasilkan beberapa jenis produk dan yang terakhir adalah menciptakan inovasi dan mampu beradaptasi di segala usaha. 


Salah satu model usaha tersebut adalah usaha budidaya udang galah bersama padi alias ugadi. Ugadi merupakan salah satu sistem budidaya yang mampu meningkatkan produktivitas lahan sawah. Dengan sistem budidaya ugadi, budidaya ikan dapat berkembang tanpa merubah sawah menjadi kolam. 
Sebagai contoh, dari 1 hektar lahan sawah yang di terapkan sistem ugadi, diperoleh Rp 63 juta per hektar (ha) baik dari panen Udang Galah maupun dari panen padinya. Sedangkan apabila hanya menanam padi, hasil yang diperoleh sekitar Rp 21 juta per ha. “Melalui ugadi, penghasilan dari petani atau pembudidaya akan meningkat," kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam siaran persnya.
Padi yang dihasilkan dari budidaya ugadi adalah padi organik karena tidak menggunakan pestisida, pupuk yang diberikan berasal dari kotoran udang galah dan juga sisa pakannya. Ini bukti dari nilai tambah produk yang di hasilkan, Selain itu, dengan ugadi petani atau petambak akan mampu memenuhi kebutuhan seharu-hari dari padi yang dihasilkan dan membeli kebutuhan tambahan dari hasil panen udang galahnya. 

sumber : kontan.co.id
Share: