Ulat Lalat Hitam Alternatif Pengganti Pelet Ikan

Peternak ikan bisa menghemat biaya untuk pakannya hanya dengan memanfaatkan sampah organiknya. Ulat yang memakan sampah organik tersebut bisa dijadikan pakan alternatif pengganti pelet. Kadar protein yang ada di dalam ulat tidak jauh beda dengan pakan pelet sehingga pertumbuhannya tetap maksimal.
Peneliti dari Switzerland, Lorenzo Biasio yang mengembangkan penelitiannya di Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat mengatakan, ulat tersebut dihasilkan dari lalat hitam yang biasanya memakan sampah organik. Lalat hitam ini memiliki panjang badan 4 – 5 centimeter dan lebar badan 1,5 centimeter. “Ulat dari lalat ini yang sangat baik untuk pakan ikan karena karena kadar protein yang cukup untuk pertumbuhan ikan,” katanya kepada MedanBisnis, baru-baru ini.
Untuk memancing munculnya ulat, ia membuat rumah kelambu yang tertutup dan di dalamnya terdapat beberapa ekor lalat dan buah yang mulai membusuk. Lalat tersebut memakan dan bertelur di dalam buah yang membusuk tersebut. Selama beberapa hari, akan mulau muncul ulat-ulat halus yang kemudian akan dipindahkan ke dalam boks lain yang berisi sampah organik, yang umumnya berisi sayuran dan buah-buahan. “Di kotak ini, selama beberapa hari, seluruh sampah organik ini akan dipenuhi dengan ulat dan semakin membesar,” katanya.
Dikatakannya, ulat-ulat yang bisa dijadikan pakan adalah yang sudah cukup berumur dan mencapai panjang sekitar 2 centimeter, yakni sekitar 3 minggu. Ulat tersebut, secara alamiah, akan mencari tempat yang lebih kering, misalnya tanah, sebelum kemudian berubah menjadi kepompong. “Ulat badannya mengeras, dia akan mencari tempat yang lebih kering untuk menjadi kepompong, ulat ini yang nantinya dijadikan sebagai pakan ikan,” katanya.
Agar ulat tersebut dapat dijadikan pakan ikan, harus dijemur di bawah terik matahari agar mengering. Karena ukurannya yang besar, jika akan diberikan kepada ikan-ikan yang masih kecil, semisal masih sebagai benih ikan, harus dihaluskan terlebih dahulu. Sementara kalau untuk ikan yang sudah besar, dapat langsung diberikan sebagai pakan. “Ini cocok untuk pakan lele, nila, mujair, mas dan ikan tawes,” akunya.
Dikatakannya, ulat dari lalat hitam ini memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga bisa dijadikan sebagai alternatif pakan pengganti pelet. Umumnya pakan pelet memiliki kandungan protein antara 38 – 40 persen. Dengan demikian, dapat memacu pertumbuhan ikan secara cepat. Sementara itu, ulat ini memiliki kandungan protein mencapai 35 – 40 persen.
“Tak jauh beda, tapi kalau dilihat dari efisiensinya dan faktor kesehatan, pakan ulat tidak mengandung bahan kimia, tak perlu keluar uang karena bisa dihasilkan dari sampah organik, berupa buah dan sayuran,” katanya.
Ia mengatakan, untuk membuat boks yang bisa menghasilkan ulat tersebut atau dalam artian menangkarkan ulat pakan ikan, sangat mudah untuk dilakukan peternak ikan. Cukup dengan membuat meja setinggi satu meter dengan ukuran panjang 2 meter dan lebar 80 centimeter, dapat menampung beberapa kilogram sampah organik.
Sebagai lantainya dibuat cekung agar dapat terkonsentrasi di dalam. Di setiap sudutnya, disiapkan pipa yang dibelah setengahnya. Kemudian di setiap sudutnya juga dipasang botol yang berisi sedikit tanah kering. “Ulat yang sudah cukup umur secara alamiah mencari tempat yang lebih kering, ia akan merayap ke atas, dan melalui pipa ini akan masuk ke dalam botol, setiap hari bisa dikutip,” katanya.
Agar mempercepat pertumbuhan ulat, boks tersebut harus ditutup sehingga menciptakan suhu lebih lembab. Selain itu, dengan menutupnya menghindarkan dari gangguan dari binatang lain, semisal ayam. “Kalau di sini, biasanya ada biawak yang memakan buah-buahan, saya sering kali mengusirnya,” katanya.
Di dalam boks ini, lanjut Lorenzo, yang selama 2,5 bulan di Bukit Lawang sudah fasih berbahasa Indonesia ini, tidak perlu sering dibersihkan. Karena sampah organik di dalamnya setiap saat akan berkurang karena dimakan ulat, biarpun setiap hari diisi dengan sampah organik yang baru. “Sampah-sampah ini akan habis dengan cepat. Dulu pernah saya coba dengan buah strawberry, selama 2 jam buah itu langsung habis,” katanya.
Untuk membuktikan bahwa ulat tersebut sangat baik sebagai pakan ikan, ia sudah membuat 9 kolam percobaan yang hasilnya memuaskan. Kolam-kolam yang dibuatnya tersebut berada di Agrotechnopark di Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bahorok, Langkat. Di tiap 3 kolam, diberi pakan berlainan, misalnya dengan memberi pakan murni pelet, ulat, dan campuran pakan daun berupa singkong.
Dari penelitian yang sudah dilakukannya selama ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan dengan pakan ulat tak jauh beda dengan pakan pelet. “Kita memanfaatkan bahan organik untuk apapun yang kita makan, dengan mengurangi bahan kimia, semisal pelet,” tambahnya.

sumber : budidaya-ikan.com
Share: