Teknik dan Cara Budidaya Jamur Kuping

Jamur kuping adalah jamur yang sering tumbuh di media kayu yang basah dan lembab. Bisa juga di pohon yang sudah mati. Cara budidaya jamur kuping ini juga terbilang mudah dan tidak terlalu menyita waktu, sehingga bisa dilakukan sambil melaksanakan kegiatan yang lain.

Budidaya Jamur Kuping
Dari tahun ke tahun, jamur jenis ini makin banyak yang menyukainya, baik di dunia maupun di Indonesia. Karena selain rasanya yang lezat, juga banyak kegunaannya untuk menjaga kesehatan serta kesembuhan suatu penyakit.
Sebab yang lain adalah karena jamur jenis ini mudah diolah di sembarang tempat. Mulai daerah hutan di pantai hingga di pegunungan yang tinggi. Yang penting adalah lokasinya selalu lembab dan tidak terlalu panas.

Cara Budidaya Jamur Kuping
Untuk melakukan budidaya jamur kuping, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan media yang akan digunakan untuk menanam jamur kuping. Dulu media yang paling cocok untuk menanam jamur kuping adalah kayu yang basah atau lembab.
Namun saat ini ada cara lain, yaitu bubuk kayu sisa yang bisa diperoleh dengan mudah di tempat-tempat penggergajian kayu. Beberapa orang lebih suka memilih serbuk kayu, karena proses penanaman jamurnya lebih mudah. Terutama waktu memberi vitamin atau semacam pupuk pada media. Selain itu masa tanamnya juga lebih singkat dibanding dengan jika menggunakan media kayu.

Namun demikian, media kayu juga punya kelebihan. Meski waktu yang dibutuhkan lebih panjang, harga jual jamur yang ditanam di media kayu harganya juga jauh lebih tinggi. Sebab kwalitas jamur yang dihasilkan biasanya juga lebih bagus.
Karena itu orang bisa memilih, mau yang harga jual panennya mahal namun memakan waktu yang lebih lama, atau yang cepat namun kwalitasnya dan harga jualnya tidak begitu tinggi.

Serbuk kayu yang sudah dibersihkan lalu dimasukan ke dalam plastik atau polybag. Kalau menggunakan kayu tinggal dibersihkan saja. Setelah itu ditempatkan pada ruang khusus untuk pengembangbiakan jamur kuping. Bila tidak ada ruang bisa membuat sendiri dari bambu atau kayu yang di atasnya diberi agar di dalam tidak terlalu panas dan selalu terjaga kelembabannya.
Setelah media untuk menanam jamur sudah siap, maka langkah selanjutnya adalah menyiapkan bibit yang mau ditanam. Kemudian bibit tersebut dimasukan atau ditanam ke dalam media.

Perawatan Jamur Kuping
Dalam masa pertumbuhannya, jamur kuping tidak memerlukan perawatan khusus. Yang terpenting adalah suhu di dalam ruang harus tetap dingin dan media tanam juga harus dalam keadaan basah terus.
Bila media mulai mengering, siramlah dengan air secukupnya. Jangan terlalu banyak, karena akan membuat jamur mudah busuk dan mati. Dalam jangka waktu tertentu, media jamur bisa diberi pupuk yang bisa dibeli di toko-toko pertanian. Cara memberikannya bisa disiramkan langsung atau disuntikan ke dalam media tanam.

Menghindari Hama Pengganggu
Usahkan pintu ruang untuk membudidayakan jamur selalu tertutup. Selain untuk menjaga kelembaban udara, juga untuk menghindari masuknya binatang yang suka merusak tanaman jamur. Misalnya tikus atau semut.
Meski tidak terlalu suka dengan jamur, namun tikus suka mengerat media tanam jamur. Demikian pula dengan semut yang suka memilihnya untuk dijadikan kandang. Akibatnya tentu saja jamur gagal mengalami pertumbuhan dan mati. Demikian pula dengan kecoak atau bekicot yang suka tinggal di tampat yang gelap.

Masa Panen
Bila bisa tumbuh secara normal dan bagus, ketika memasuki usia tiga bulan, maka jamur kuping yang ditanam di sebuk kayu sudah mulai bisa dipanen. Namun bila menggunakan media kayu, masa panennya membutuhkan waktu sekitar lima bulan.
Untuk orang luar negeri, terutama di Jepang dan Korea serta Hongkong, kebanyakan lebih suka jamur yang ditanam di kayu dari pada diserbuk. 

sumber : gemawirausaha.blogspot.com
Share: