swasembada pakan ikan terbentur sulitnya produksi minyak ikan

Selain menjanjikan swasembada garam, gula, dan bahan pangan lainnya, pemerintah juga menjanjikan swasembada pakan ikan. Selama ini, pakan ikan untuk budidaya perikanan masih didominasi produk impor dengan harga mahal.

Bukan hal mudah mewujudkan itu. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo mengatakan pakan ikan terdiri dari campuran dedak, kedelai dan minyak ikan. Permasalahannya, di dalam negeri kesulitan memproduksi minyak ikan.
"Kita targetkan swasembada pakan ikan secepat mungkin dengan teknologi yang ada," ujar Indroyono usai menggelar rapat koordinasi di kantornya, gedung BPPT, Jakarta Pusat.
Indroyono meyakini, dengan penggunaan kecanggihan teknologi, pihaknya bakal mengupayakan substitusi pengganti minyak ikan. Dengan begitu mampu menekan importasi pakan ikan bahkan mempercepat swasembada.
"Kita usaha kurangi impor, caranya jangan sampai harga naik. Dikembangkan sama-sama BPPT. Yang susah pakan ikan, kan campuran dedak, kedelai, jagung harus ada minyaknya. Dicari apakah bisa dari magot, serangga kelapa sawit," paparnya.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan biaya pakan membebani 80 persen total produksi perikanan budidaya. Padahal, sewajarnya pakan hanya mengambil porsi 50 persen biaya produksi.
Maka dari itu, Susi menginstruksikan kepada Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Budidaya untuk membuat program yang bisa menekan harga pakan. Ketentuannya, harga pakan tak boleh lebih 60 persen.
"Saya wajibkan Dirjen Pengolahan dan Pemasaran mengatur program swasembada pakan hanya mencapai 60 persen paling mahal," ujarnya.
sumber : merdeka.com
Share: