Sumsel Jadi Pusat Budidaya Ikan Air Tawar Langka ASEAN

Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) akan menjadi tempat penelitian dan budi daya ikan tawar langka negara-negara Asia Tenggara (ASEAN). Budi Iskandar, Kepala Perikanan Perairan Umum Sumsel, mengatakan dipilihnya wilayah ini karena memiliki sekitar 200 spesies ikan tawar langka.
Proyek percontohan ini merupakan hasil konferensi Kementerian Perikanan ASEAN di Bangkok, 17 Juni 2011, yang sepakat menjaga spesies ikan langka agar tidak punah. Potensi yang besar dalam bidang pengembangan perikanan air tawar jenis langka, membuat Sumsel dipilih sebagai tempat penelitian. Akses Sumsel yang lebih lengkap dan mudah juga menjadi pertimbangan.
“Badan Litbang Pusat melalui Balai Penelitian Perikanan Perairan Umum menunjuk Sumsel sebagai pilot project pengembangan ikan air tawar karena memiliki potensi dan karekteristik unik,” ujarnya.
Untuk proyek ini, Sumsel membutuhkan lahan 2-4 hektare untuk pusat penelitian dengan dana pembangunan Rp 10 miliar yang diusulkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Untuk lahan, pemerintah Sumsel mengincar lahan di Jakabaring dengan ikan pertama yang akan dilestarikan adalah ikan belido.
Pusat penelitian akan disinergikan dengan program pemda dalam pengembangan ikan untuk meningkatkan kegiatan ekonomi petani budi daya ikan air tawar. Pusat penelitian ini menjadi satu-satunya regional center yang menangani perikanan darat, sehingga semua negara ASEAN akan mendukung dan memfasilitasi penelitian ini.
Sri Dewi Titisari, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel, mengatakan, produksi ikan di Sumsel cukup bagus. Meski cuaca tidak dapat diprediksi, pihaknya optimistis produksi ikan pada 2012 akan meningkat 30% dari tahun sebelumnya.
Tahun lalu, Sumsel memproduksi ikan 291.375 ton. Dari seluruh produksi ikan yang dihasilkan Sumsel, sekitar 50% merupakan jenis patin. Selebihnya ikan nila, lele, dan lainnya. Daerah ini merupakan pemasok ikan patin ke beberapa provinsi seperti Bengkulu dan Jambi. 

sumber : budidaya-ikan.com



Share: